Independen Ekspos | Gelombang demonstrasi anti-pemerintah di Iran terus menelan korban besar. Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan sedikitnya 2.403 demonstran tewas sejak protes pecah pada 28 Desember 2025. Data ini naik tajam dari laporan sebelumnya yang mencatat sekitar 1.850 korban tewas.
HRANA mengonfirmasi jumlah tersebut kepada media internasional. Dari total korban, 12 di antaranya berusia di bawah 18 tahun. Selain itu, sedikitnya 18.137 orang ditangkap selama gelombang protes berlangsung.
HRANA menyatakan angka tersebut berasal dari kasus yang berhasil mereka identifikasi. Organisasi ini menilai jumlah korban sebenarnya berpotensi lebih besar karena pemadaman internet yang masih berlangsung.
Bukti Visual Kekerasan Aparat
CBS News memverifikasi video yang beredar daring dan menunjukkan sedikitnya 366 jenazah, dengan kemungkinan jumlah melebihi 400, di sebuah kamar mayat di Teheran. Rekaman tersebut memperlihatkan luka tembak, luka akibat peluru senapan angin, dan cedera berat lainnya.
Video itu pertama kali diunggah oleh aktivis Iran yang dikenal sebagai Vahid Online. Ia menyebut video dikirim oleh sumber yang menempuh perjalanan sekitar 600 mil untuk mengunggahnya di tengah pemutusan komunikasi nasional.
Rumah Sakit Kewalahan
Laporan dari dalam Iran menggambarkan kondisi rumah sakit yang penuh korban. Seorang dokter yang berbasis di London, Shahram Kordasti, menyampaikan pesan dari koleganya di Teheran yang menyebut banyak rumah sakit berada dalam kondisi seperti zona perang. Pasokan medis dan darah dilaporkan menipis.
Rekaman lain dari Kahrizak Forensic Centre di Teheran memperlihatkan puluhan hingga ratusan jenazah terbungkus kain kafan dan kantong jenazah. Aktivis yang diwawancarai media internasional menyebut jenazah ditumpuk berdasarkan wilayah asal.
Klaim dan Bantahan Pemerintah Iran
Pejabat Iran belum merilis laporan resmi dan rutin soal jumlah korban. Seorang pejabat yang dikutip Reuters menyebut sekitar 2.000 orang tewas sejak protes dimulai. Ia menyalahkan kelompok yang disebut sebagai “teroris” yang dipengaruhi pihak asing.
Kepala kepolisian dan pimpinan tertinggi negara mengeklaim kerusuhan diperintahkan dari luar negeri. Pemerintah juga menyatakan telah berdialog dengan demonstran, tetapi mengklaim aksi disusupi kelompok terlatih dari luar negeri yang menyerang aparat keamanan.
Protes Meluas ke Seluruh Negeri
Demonstrasi dilaporkan menyebar ke sekitar 180 kota dan wilayah di seluruh 31 provinsi Iran. Aksi ini dipicu runtuhnya nilai mata uang dan lonjakan biaya hidup. Dalam waktu singkat, tuntutan ekonomi berubah menjadi seruan perubahan politik.
Rekaman terbaru yang diverifikasi menunjukkan bentrokan di sejumlah kota seperti Arak, Tabriz, Urmia, dan Khorramabad. Dalam video dari Khorramabad terdengar suara tembakan saat aparat dan demonstran bentrok.
Ancaman Hukuman Mati
HRANA mencatat lebih dari 16.780 orang ditangkap selama protes. Otoritas kehakiman Iran menyatakan pelaku kerusuhan akan ditindak tegas. Jaksa menyebut sebagian tersangka akan dijerat tuduhan “permusuhan terhadap Tuhan”, yang dapat berujung hukuman mati.
Satu pria berusia 26 tahun dilaporkan telah dijatuhi hukuman mati hanya dalam dua hari proses hukum. Keluarga menyebut eksekusi dijadwalkan dalam waktu dekat.
Reaksi Internasional Menguat
Mahmood Amiry-Moghaddam, pimpinan Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia, mengatakan informasi yang diterima organisasinya menunjukkan tingkat kekerasan jauh lebih parah dari perkiraan. Ia menilai semua batas komunitas internasional telah dilanggar.
Ia menekankan tanggung jawab negara-negara dunia untuk melindungi warga sipil Iran dan mendesak pemulihan akses internet. Menurutnya, pemutusan internet sama dengan mengurung rakyat dari dunia luar.
Kepala HAM PBB Volker Türk mendesak Iran menghentikan kekerasan terhadap demonstran damai dan memulihkan layanan komunikasi. Ia menilai pelabelan demonstran sebagai teroris untuk membenarkan kekerasan tidak dapat diterima.
Trump Janji Bertindak
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya sedang mengumpulkan angka korban yang akurat. Ia menyebut skala pembunuhan terlihat besar dan mengatakan akan bertindak sesuai temuan tersebut.
Trump menulis di platform Truth Social bahwa otoritas Iran akan membayar harga mahal atas pembunuhan demonstran. Ia mengaku telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dan menyerukan warga Iran untuk terus melakukan protes.
Trump juga mengumumkan tarif 25 persen terhadap negara mana pun yang tetap berdagang dengan Iran. Pejabat pertahanan AS menyebut Trump telah menerima paparan opsi respons, termasuk langkah militer, siber, dan operasi psikologis.
Dalam pernyataan terpisah, Trump mengatakan Amerika Serikat akan mengambil tindakan sangat keras jika Iran mulai mengeksekusi para demonstran.
Desakan Aksi Nyata
Pangeran Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, menyatakan rakyat membutuhkan tindakan nyata dari komunitas internasional. Ia menilai intervensi lebih awal dapat mengurangi jumlah korban dan mengakhiri krisis yang berlangsung.
Situasi di Iran masih berkembang. Pemadaman internet telah berlangsung lebih dari 120 jam, dengan laporan pos pemeriksaan ketat di berbagai wilayah. Akses informasi tetap terbatas, sementara jumlah korban terus menjadi perhatian dunia.



