Luhut Ingatkan Airlangga Hartarto Tidak ‘Ngotot’ Jadi Capres Maupun Cawapres

Redaksi

Airlangga Hartarto
Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto untuk tidak ngotot menjadi calon presiden maupun calon wakil presiden.

Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar ini menyarankan agar Airlangga Hartarto melihat peluang lain yang bisa diperoleh dalam kontestasi pemilihan umum (Pemilu) 2024, yakni memperkuat posisi Partai Golkar di parlemen.

“Kalau enggak bisa jadi calon presiden, saya sudah bilang tadi kan, tidak bisa calon wakil presiden kan masih ada yang lain yang bisa dibenahi,” ujar Luhut dikutip dari akun YouTube Kompas TV, Jumat (21/7/2023).

Luhut juga menekankan, strategi Partai Golkar dalam menghadapi Pemilu 2024 harus jelas. Golkar tidak perlu menginginkan semua posisi dalam pemilu, tetapi justru tidak ada satu pun yang diperoleh.

Apabila ambisi-ambisi itu terus dipaksakan, kata Luhut, maka pihak yang akan dirugikan adalah partai. “Korbannya siapa? Partainya. Jadi jangan ambisi kita sendiri juga merusak diri kita sendiri,” ujarnya.

Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) itu mengingatkan partai berlambang beringin harus memiliki sikap. Keputusan memilih target yang ingin diraih dalam Pemilu 2024 juga harus realistis.

Jika capres dan cawapres tidak bisa diperoleh, pilihan memperkuat parlemen menjadi masuk akal. “Legislatif kan menentukan sekali. Sekarang 85 atau 86 kursi Golkar (di parlemen). Bisa enggak itu dipertahankan? Mesti realistis,” kata Luhut.

“Jangan kita ini seperti membohongi diri kita sendiri,” imbuhnya.

Partai Golkar saat ini tengah dilanda isu perpecahan. Sejumlah elite disebut mendorong digelarnya musyawarah nasional luar biasa (munaslub), mencopot Airlangga Hartarto dari posisi ketua umum.

Sejumlah pihak di internal Golkar diketahui tetap ngotot mengusung Airlangga baik sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden meski elektabilitasnya rendah.

Berdasarkan hasil survei Litbang KOMPAS pada 29-10 Mei 2023 Golkar menempati urutan keempat dengan elektabilitas 7,3 persen. Partai tua itu tertinggal jauh dari PDI-P yang meraup 23,3 persen suara, Gerindra 18,6 persen, dan Demokrat 8 persen.

Sementara, berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), Golkar duduk di urutan ke 4, ada di kelas menengah yang bersaing ketat dengan partai lainnya.

Survei yang digelar pada 1-8 Juli itu menyebut Golkar hanya meraup 6 persen suara, tertinggal dari PDI-P 23,7 persen, Gerindra 14,2 persen, PKS 6,2 persen.

Sementara, elektabilitas Airlangga juga sangat rendah. Berdasarkan survei LSI, dalam Top Of MInd pilihan presiden, Airlangga tidak meraup suara atau 0,0 persen. Sementara, pada simulasi 19 nama calon presiden, elektabilitasnya hanya 0,5 persen.

Begitupun ketika namanya diajukan dalam daftar 24 nama wakil presiden, ia hanya meraup 2,6 persen suara da 3,8 persen pada simulasi 12 nama.

Leave a Comment