Independen Ekspos | Earphone kabel sempat dianggap teknologi lama. Banyak ponsel terbaru bahkan sudah menghapus lubang audio jack 3,5 mm yang dulu menjadi tempat mencolokkan perangkat tersebut.
Perubahan itu membuat earphone nirkabel berbasis Bluetooth menjadi pilihan utama. Perangkat ini ringan, mudah dipakai, dan terhubung tanpa kabel.
Namun beberapa tahun terakhir muncul fenomena yang menarik. Sejumlah figur publik kembali terlihat menggunakan earphone kabel.
Fenomena ini memicu pertanyaan. Mengapa teknologi lama tiba-tiba kembali populer? Apakah hanya soal gaya, atau ada alasan lain seperti kesehatan dan keamanan?
Kembalinya Earphone Kabel di Kalangan Selebritas
Pada Desember 2025, media internasional melaporkan sejumlah selebritas terlihat kembali menggunakan earphone kabel.
Beberapa nama yang disebut antara lain Lily-Rose Depp, Paul Mescal, dan Bella Hadid.
Pada Januari 2026, laporan lain menambah daftar tersebut. Drake, Zendaya, Harry Styles, hingga pemain NBA seperti Steph Curry dan Anthony Edwards juga terlihat memakai earphone kabel.
Perubahan ini menarik perhatian karena terjadi di tengah dominasi perangkat nirkabel.
Earphone Kini Jadi Aksesori Fashion
Daniel Rodgers, editor fesyen di British Vogue, menjelaskan bahwa earphone kabel telah berubah fungsi.
Perangkat ini tidak lagi sekadar alat mendengarkan musik. Earphone kabel mulai diperlakukan sebagai aksesori.
Seperti jam tangan atau tas, bentuk dan cara memakainya bisa menjadi bagian dari gaya berpakaian.
Bagi sebagian orang, kabel yang terlihat justru memberi identitas visual yang kuat.
Nostalgia Era Walkman dan iPod
Alasan lain yang sering muncul adalah nostalgia.
Earphone kabel mengingatkan banyak orang pada masa ketika musik diputar melalui Walkman atau iPod generasi awal.
Pada masa itu, mendengarkan musik terasa lebih personal. Orang harus membawa perangkat khusus, memilih lagu secara manual, dan memasang earphone dengan kabel.
Situasi tersebut berbeda dengan kondisi sekarang. Streaming musik tersedia di mana saja dan dapat diakses dalam hitungan detik.
Kembalinya earphone kabel bagi sebagian orang terasa seperti kembali ke pengalaman lama yang lebih sederhana.
Kelelahan Digital dan Tren Teknologi Analog
Fenomena ini juga berkaitan dengan meningkatnya kelelahan digital.
Shelby Hull, pendiri akun Instagram @wireditgirls yang memiliki puluhan ribu pengikut, melihat perubahan ini sebagai bagian dari tren yang lebih luas.
Banyak orang mulai mencari aktivitas analog untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi digital.
Contohnya antara lain:
- merajut
- menggunakan kamera film
- memakai ponsel sederhana atau dumbphone
Earphone kabel masuk dalam kategori yang sama. Perangkat ini tidak memerlukan koneksi Bluetooth dan tidak bergantung pada baterai.
Faktor Harga yang Jauh Lebih Murah
Selain alasan gaya dan nostalgia, faktor ekonomi juga berperan.
Earphone kabel umumnya jauh lebih murah dibandingkan perangkat nirkabel.
Sebagai contoh:
- Apple EarPods dijual sekitar 17 pound sterling atau sekitar Rp285 ribu
- AirPods dijual mulai sekitar 99 pound sterling atau sekitar Rp1,7 juta
Selisih harga tersebut sangat besar.
Bagi pengguna yang hanya ingin mendengarkan musik atau melakukan panggilan telepon, earphone kabel dianggap cukup memenuhi kebutuhan.
Perdebatan Radiasi Bluetooth
Di balik tren tersebut terdapat satu isu yang sering dibicarakan.
Isu itu berkaitan dengan radiasi dari perangkat Bluetooth.
Pada tahun 2011, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker di bawah Organisasi Kesehatan Dunia mengklasifikasikan radiasi frekuensi radio sebagai “possibly carcinogenic to humans” atau kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia.
Kategori ini tidak berarti terbukti menyebabkan kanker. Klasifikasi tersebut hanya menunjukkan adanya kemungkinan risiko yang masih perlu diteliti.
Earphone Bluetooth memancarkan radiasi frekuensi radio karena menggunakan teknologi komunikasi nirkabel.
Inilah yang membuat sebagian orang mulai mempertimbangkan kembali penggunaan perangkat tersebut.
Cara Kerja Bluetooth dan Jenis Radiasi
Bluetooth bekerja dengan mengirimkan data melalui gelombang radio pada frekuensi sekitar 2,4 GHz.
Gelombang ini menghasilkan radiasi non-pengion atau Non-Ionizing Radiation.
Radiasi non-pengion berbeda dengan radiasi pengion seperti sinar-X.
Radiasi pengion memiliki energi tinggi yang dapat merusak DNA secara langsung.
Radiasi non-pengion tidak memiliki energi sebesar itu. Efek biologisnya biasanya berkaitan dengan pemanasan jaringan.
Karena itulah tingkat bahayanya dinilai jauh lebih rendah.
Seberapa Besar Paparan dari Earphone Bluetooth
Tingkat radiasi dari earphone Bluetooth relatif kecil.
Nilainya berada pada kisaran 0,2 hingga 0,3 watt per kilogram.
Angka tersebut berada di bawah batas aman yang ditetapkan otoritas kesehatan internasional.
Paparan ini bahkan lebih rendah dibandingkan radiasi yang dipancarkan ponsel saat digunakan.
Cancer Research UK menyatakan bahwa belum ada bukti cukup untuk menyimpulkan bahwa earphone Bluetooth menyebabkan kanker.
Penelitian yang melibatkan kelompok besar manusia juga belum menemukan hubungan langsung dengan peningkatan risiko kanker.
Kekhawatiran Ilmuwan: Efek Akumulasi
Walau tingkat radiasinya rendah, ilmuwan tetap mempelajari dampak jangka panjang.
Alasannya sederhana. Earphone Bluetooth digunakan sangat dekat dengan kepala dan leher.
Banyak orang memakainya berjam-jam setiap hari.
Paparan kecil yang terjadi terus-menerus selama bertahun-tahun dapat menimbulkan efek akumulatif.
Efek kumulatif inilah yang menjadi fokus penelitian saat ini.
Kelenjar Tiroid Jadi Fokus Penelitian
Salah satu organ yang mendapat perhatian adalah kelenjar tiroid.
Kelenjar ini berbentuk seperti kupu-kupu dan berada di bagian depan leher.
Posisinya dekat dengan telinga, tempat earphone dipakai.
Kelenjar tiroid dikenal sensitif terhadap radiasi.
Karena letaknya tersebut, paparan gelombang radio dari perangkat di sekitar telinga dapat memengaruhi jaringan di area ini.
Studi 2024: Durasi Bluetooth dan Risiko Nodul Tiroid
Sebuah studi epidemiologi yang dipublikasikan pada Juni 2024 meneliti hubungan antara penggunaan headset Bluetooth dan nodul tiroid.
Penelitian tersebut menemukan bahwa durasi penggunaan harian menjadi salah satu faktor yang berkorelasi dengan risiko nodul tiroid.
Semakin lama seseorang menggunakan headset Bluetooth setiap hari, semakin tinggi skor risiko yang muncul dalam model prediksi penelitian tersebut.
Model analisis yang digunakan memiliki nilai AUC sebesar 0,95. Nilai ini menunjukkan kemampuan prediksi yang sangat tinggi dalam membedakan individu berisiko dan tidak berisiko.
Penelitian tersebut menggunakan beberapa metode analisis:
- Propensity Score Matching untuk menyeimbangkan data
- model machine learning XGBOOST untuk memprediksi risiko
- SHAP analysis untuk mengidentifikasi faktor paling berpengaruh
Apa Itu Nodul Tiroid
Nodul tiroid adalah pertumbuhan jaringan abnormal di dalam kelenjar tiroid.
Sebagian besar nodul bersifat jinak dan tidak memerlukan pengobatan.
Namun sebagian kecil dapat berkembang menjadi kanker.
Penelitian global pada 2023 menunjukkan prevalensi nodul tiroid mencapai sekitar 67 persen dari populasi umum.
Angka ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagian peningkatan terjadi karena teknologi diagnostik semakin canggih sehingga lebih banyak kasus terdeteksi.
Namun peneliti juga mempertimbangkan faktor perilaku dan lingkungan sebagai penyebab tambahan.
Temuan Penelitian Lain tentang Radiasi Radio
Beberapa penelitian sebelumnya menemukan efek biologis dari radiasi frekuensi radio.
Dalam eksperimen laboratorium pada sel mamalia, paparan gelombang elektromagnetik radio dapat meningkatkan kerusakan oksidatif pada DNA.
Penelitian lain pada sel fibroblas embrionik menemukan peningkatan reactive oxygen species setelah paparan gelombang 1.800 MHz.
Reactive oxygen species berkaitan dengan stres oksidatif dan kerusakan sel.
Pada penelitian hewan, tikus yang terpapar medan elektromagnetik frekuensi rendah menunjukkan peningkatan sel mast yang mengalami degranulasi di jaringan tiroid.
Sel mast merupakan bagian dari sistem imun yang dapat memicu peradangan jika terlalu aktif.
Penelitian lanjutan menemukan peningkatan serat saraf yang mengandung neuropeptide Y pada jaringan tiroid tikus yang terpapar.
Perubahan ini dapat meningkatkan aliran darah mikro dan permeabilitas jaringan.
Bukti Ilmiah Belum Menunjukkan Hubungan Langsung
Walau sejumlah penelitian menemukan efek biologis, para ilmuwan menekankan keterbatasan data yang tersedia.
Penelitian tahun 2024 misalnya menggunakan data yang dilaporkan sendiri oleh responden.
Metode ini berpotensi menghasilkan bias.
Ukuran sampel setelah proses penyaringan juga tidak terlalu besar.
Profil responden cenderung lebih muda karena perekrutan dilakukan melalui platform daring.
Karena itu peneliti menegaskan bahwa penelitian tersebut tidak membuktikan hubungan sebab akibat secara langsung.
Temuan yang ada menunjukkan korelasi, bukan kepastian.
Penjelasan Medis: Bluetooth Tidak Terbukti Merusak Otak
Penjelasan dari sisi medis juga memberikan perspektif tambahan.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Widya Eka Nugraha, MSi Med, menjelaskan bahwa tidak semua radiasi berbahaya bagi tubuh.
Ia mengatakan, “Tidak semua radiasi berbahaya bagi tubuh manusia, karena dampaknya bergantung pada jenis radiasi, besar paparan, durasi, serta jaraknya.”
Bluetooth memancarkan gelombang radio yang termasuk radiasi non-ionisasi.
Radiasi ini berbeda dengan sinar-X yang memiliki energi tinggi.
Widya menjelaskan bahwa efek biologis utama dari paparan gelombang radio adalah pemanasan jaringan.
Sejauh ini perangkat Bluetooth yang beredar di pasaran telah memenuhi standar keamanan.
Ia menyatakan bahwa perangkat tersebut tidak memberikan efek signifikan terhadap jaringan tubuh manusia.
Risiko Lebih Besar Justru pada Cara Pemakaian
Dalam praktik sehari-hari, risiko penggunaan earphone sering muncul dari cara pemakaiannya.
Volume suara yang terlalu keras dapat merusak pendengaran.
Penggunaan earphone saat berkendara juga dapat mengurangi fokus.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan.
Widya menyarankan agar pengguna menjaga volume pada tingkat yang wajar dan membatasi durasi penggunaan.
Kebersihan perangkat juga perlu dijaga untuk mencegah infeksi telinga.
Ia menambahkan, “Bila telinga nyeri, gatal berat, keluar cairan, berdenging menetap, atau pendengaran menurun, hentikan sementara dan periksa ke dokter.”
Dimensi Keamanan Data
Selain kesehatan, earphone Bluetooth juga memunculkan isu keamanan.
Perangkat ini mengirimkan sinyal nirkabel.
Secara teori sinyal tersebut dapat disadap.
Karena itu beberapa orang yang bekerja di lingkungan dengan tingkat kerahasiaan tinggi lebih memilih earphone kabel.
Earphone kabel tidak memancarkan sinyal radio sehingga tidak memiliki risiko penyadapan melalui jaringan nirkabel.
Cara Menggunakan Earphone dengan Lebih Aman
Peneliti dan tenaga medis menyarankan beberapa langkah untuk mengurangi potensi risiko.
Beberapa di antaranya:
- batasi penggunaan earphone Bluetooth tidak lebih dari dua jam per hari
- jaga volume pada kisaran 60 hingga 70 desibel
- gunakan perangkat yang memiliki sertifikasi keamanan
- hindari penggunaan earphone saat tidur
Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi paparan suara maupun gelombang radio dalam jangka panjang.
Kembalinya earphone kabel tidak terjadi tanpa alasan. Faktor gaya, nostalgia, harga, dan kelelahan digital ikut mendorong tren ini. Di sisi lain, diskusi tentang radiasi Bluetooth membuat sebagian pengguna lebih berhati-hati. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa paparan dari perangkat Bluetooth berada di bawah batas aman dan belum terbukti menyebabkan kanker atau kerusakan otak. Namun beberapa studi menemukan korelasi yang masih terus diteliti, terutama terkait paparan jangka panjang di area kepala dan leher. Dalam praktik sehari-hari, cara penggunaan earphone tetap menjadi faktor paling menentukan. Volume suara, durasi pemakaian, serta kondisi kesehatan telinga memainkan peran yang jauh lebih nyata dibandingkan jenis perangkat yang digunakan.


