BerandaNasionalTak Ada Ucapan Belasungkawa dari Prabowo untuk Ali Khamenei, Sikap Presiden RI...

Tak Ada Ucapan Belasungkawa dari Prabowo untuk Ali Khamenei, Sikap Presiden RI Dipertanyakan

Independen Ekspos – Tidak ada ucapan belasungkawa dari Prabowo atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, memicu sorotan tajam di dalam negeri. Hingga Selasa (3/3/2026) pukul 10.15 WIB, tidak ditemukan satu pun pernyataan belasungkawa resmi dari Presiden RI, Prabowo Subianto, baik di media sosial maupun kanal komunikasi resminya.

Kabar meninggalnya Ali Khamenei dikonfirmasi media Iran, Fars News Agency, pada Minggu (1/3/2026). Dalam laporannya, Fars menyebut Khamenei “telah syahid” akibat serangan yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran saat ia tengah menjalankan tugas.

Serangan tersebut terjadi pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat, dalam eskalasi militer antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Ayatollah Ali Khamenei wafat pada usia 86 tahun setelah hampir empat dekade memimpin Iran sebagai Supreme Leader.

Namun tiga hari setelah kabar duka itu tersebar luas, tidak ada pernyataan publik dari Prabowo. Pantauan pada akun X, Instagram @prabowo, kanal YouTube @djojohadikusumo, hingga situs resmi prabowosubianto.com tidak menunjukkan adanya ucapan belasungkawa.

Sikap ini dipertanyakan oleh politisi PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli. Melalui unggahan di akun Instagram @gunromli, ia menilai absennya ucapan duka dari kepala negara Indonesia sebagai hal yang janggal.

“Saya belum menemukan ucapan duka cita dari Presiden Prabowo atas meninggalnya Sayyid Ali Khamenei, Kepala Negara Iran,” tulis Guntur Romli.

Menurutnya, Indonesia dan Iran adalah dua negara sahabat dengan relasi diplomatik yang kuat. Karena itu, secara etika kenegaraan, ucapan belasungkawa dinilai sebagai bentuk penghormatan dasar antarnegara.

Guntur Romli menilai ketiadaan pernyataan belasungkawa resmi tersebut patut dipertanyakan, mengingat posisi Prabowo sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

Kritik makin tajam karena sebelumnya Prabowo menyatakan kesiapan menjadi mediator dalam konflik AS-Israel dan Iran. Tak lama setelah eskalasi militer pecah, Kementerian Luar Negeri RI merilis pernyataan resmi pada Sabtu (28/2/2026).

Dalam pernyataan itu, pemerintah menyampaikan kesiapan Presiden RI untuk memfasilitasi dialog demi deeskalasi konflik. Bahkan disebutkan, jika disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi.

Guntur Romli mempertanyakan konsistensi sikap tersebut. Ia menilai sulit menjadi juru damai jika langkah dasar berupa penyampaian duka cita saja tidak dilakukan.

“Tawaran menjadi juru damai bisa dipuji sebagai kepedulian. Tapi bagaimana mau diterima Teheran jika mengucapkan duka cita saja tidak dilakukan?” tulisnya.

Ia juga menyinggung munculnya kritik publik yang menilai tawaran mediasi itu sekadar pencitraan dan upaya mencari panggung internasional.

Di sisi lain, hubungan diplomatik Indonesia dan Iran memang telah terjalin sejak 1950. Berdasarkan dokumen resmi di laman Kementerian Luar Negeri RI, kedua negara memiliki kemitraan strategis yang stabil.

Kerja sama bilateral mencakup perdagangan, energi, teknologi, kesehatan, pendidikan, hingga isu-isu global. Indonesia dan Iran juga kerap berkolaborasi dalam berbagai forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), D-8, dan BRICS.

Kedekatan ini selama ini menjadi fondasi hubungan kedua negara. Karena itu, absennya ucapan belasungkawa dari Presiden RI atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran kini menjadi perbincangan publik dan memunculkan pertanyaan soal etika diplomasi.

Hingga berita ini ditulis, belum ada klarifikasi resmi dari pihak Istana terkait alasan tidak disampaikannya ucapan duka cita tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses