Independen Ekspos | Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih cepat dari pola normal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki periode kering sejak April dan mencapai puncaknya pada Agustus.
Perubahan pola musim ini berkaitan dengan kondisi iklim global yang sedang bergerak menuju fase baru setelah fenomena La Niña berakhir.
Kondisi tersebut berpotensi memicu dampak berantai. Sektor pertanian, ketersediaan air, kebakaran hutan, hingga kualitas udara diperkirakan ikut terpengaruh.
La Niña Berakhir, Sistem Angin Muson Berubah
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan fenomena La Niña lemah yang berlangsung sebelumnya telah berakhir pada Februari 2026.
Saat ini kondisi iklim global berada pada fase netral. Sistem iklim tersebut berpotensi bergerak menuju El Niño pada pertengahan tahun.
Perubahan arah angin muson menjadi indikator utama datangnya musim kemarau.
“Peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi penanda dimulainya musim kemarau,” jelas Faisal.
Ia menambahkan puncak kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
“Berdasarkan hasil analisis BMKG, puncak musim di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026,” ujarnya.
April Jadi Awal Kemarau di Sejumlah Wilayah
BMKG mencatat 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.
Wilayah yang lebih dulu mengalami perubahan musim antara lain:
- Pesisir utara Jawa bagian barat
- Sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur
- Beberapa wilayah di Nusa Tenggara
- Sebagian wilayah Kalimantan
- Sejumlah daerah di Sulawesi
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan proses kemarau terjadi bertahap di berbagai daerah.
Sebanyak 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah diperkirakan memasuki musim kemarau pada Mei 2026.
Kemudian 163 ZOM atau 23,3 persen wilayah mulai mengalami kemarau pada Juni 2026.
Wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih awal mencakup sebagian besar:
- Sumatra
- Jawa
- Bali
- Nusa Tenggara
- Kalimantan bagian selatan dan timur
- Sulawesi
- Maluku
- Sebagian Papua
Agustus Jadi Puncak Kemarau Nasional
BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026.
Sebanyak 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kondisi kering pada bulan tersebut.
Beberapa wilayah lain mengalami puncak kemarau pada waktu berbeda:
- Juli sekitar 12,6 persen wilayah
- September sekitar 14,3 persen wilayah
Pada Agustus, kondisi kering diperkirakan mendominasi wilayah berikut:
- Sumatra bagian tengah dan selatan
- Jawa Tengah hingga Jawa Timur
- Sebagian besar Kalimantan
- Sebagian besar Sulawesi
- Seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara
- Sebagian Maluku dan Papua
Sebagian Besar Wilayah Diprediksi Lebih Kering
BMKG memproyeksikan karakter musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dibandingkan pola normal.
Sebanyak 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau bawah normal.
Artinya curah hujan berada di bawah rata-rata klimatologis.
Sementara 245 ZOM atau 35,1 persen wilayah diperkirakan berada pada kondisi normal.
Hanya tiga ZOM atau 0,4 persen wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau atas normal atau lebih basah. Wilayah tersebut berada di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara.
Durasi musim kering juga diperkirakan lebih panjang.
Sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia berpotensi mengalami kemarau dengan durasi lebih lama dibandingkan rata-rata tahunan.
Kemarau Kering Bisa Picu Lonjakan Polusi Udara
Musim kemarau tidak hanya berdampak pada kekeringan. Kondisi udara juga dapat berubah.
Saat hujan turun, partikel polutan di udara biasanya terbawa air hujan dan jatuh ke permukaan tanah.
Namun saat kemarau panjang terjadi, partikel debu dan polusi seperti PM2.5 dapat bertahan lebih lama di udara.
Piotr Jakubowski, Co Founder salah satu aplikasi pemantau kualitas udara ecoCare Pure Air, memberi contoh kondisi kualitas udara di Jakarta.
“Rata-rata Jakarta tahun lalu berada di atas 40. Pada musim kemarau bahkan bisa naik sampai 80-100, dan kadang-kadang bisa mencapai 200,” jelasnya.
Angka 200 berada pada kategori sangat tidak sehat. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan dan masalah jantung.
Banyak masyarakat menggunakan air purifier untuk menyaring udara di dalam ruangan.
Namun Piotr mengingatkan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada indikator warna pada perangkat tersebut.
Ia menilai pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan menjadi kunci untuk memahami kondisi lingkungan.
“Dengan adanya monitoring kualitas udara 365 hari per tahun, kita tahu kapan kualitasnya bagus atau buruk. Data itu penting untuk memperbaiki kualitas udara secara sistematis,” katanya.
BMKG Minta Pemerintah dan Masyarakat Bersiap
BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi.
Langkah tersebut mencakup beberapa sektor penting:
- Pertanian
- Pengelolaan sumber daya air
- Lingkungan hidup
Pemerintah daerah juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Penurunan kualitas udara selama musim kemarau juga menjadi perhatian.
BMKG menegaskan prediksi iklim ini merupakan bentuk peringatan dini.
“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” ujar Faisal.


