Independen Ekspos – British Citizen menjadi sorotan setelah alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Dwi Sasetyaningtyas, menyatakan lebih bangga jika anaknya berstatus Warga Negara Asing daripada Warga Negara Indonesia.
Dwi Sasetyaningtyas, yang juga dikenal sebagai Tyas, menyampaikan pernyataan itu melalui Instagram dan Threads. Dalam unggahannya ia menulis, “Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan paspor buat WNA.”
Unggahan tersebut menyebar luas dan memicu reaksi keras dari warganet. Banyak pihak menilai pernyataan itu tidak bijak karena Dwi merupakan awardee LPDP yang pendidikannya dibiayai negara.
LPDP dan Dana Publik Jadi Sorotan
Nama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ikut terseret dalam polemik. LPDP merupakan lembaga pengelola dana beasiswa yang bersumber dari anggaran negara.
Dwi Sasetyaningtyas diketahui menerima beasiswa LPDP untuk pendidikan S2 di Belanda. Dana pendidikan tersebut berasal dari pajak yang dibayarkan masyarakat.
Sejumlah warganet mempertanyakan sikap Dwi Sasetyaningtyas. Mereka menilai penerima beasiswa dari dana publik semestinya menunjukkan komitmen terhadap Indonesia.
Polemik ini juga menyeret nama suaminya, Aryo Iwantoro, yang ikut menjadi perhatian publik.
Alasan Memilih Kewarganegaraan Inggris
Di tengah polemik, isu kewarganegaraan Inggris ikut menjadi perbincangan. Memiliki anak berstatus British Citizen memang memberikan sejumlah keuntungan strategis.
1. Akses Pendidikan Kelas Dunia
Inggris menjadi rumah bagi universitas ternama seperti University of Oxford dan University of Cambridge.
Anak dengan status British Citizen berpotensi mendapatkan Home Fee Status. Skema ini membuat biaya kuliah lebih rendah dibanding mahasiswa internasional.
Mereka juga bisa mengakses Student Loans dari pemerintah Inggris. Skema ini memungkinkan pembayaran biaya pendidikan dicicil setelah memiliki penghasilan tertentu.
Sejak usia dini hingga menengah, anak berhak mengakses sekolah negeri tanpa biaya.
2. Mobilitas Global dengan Paspor Kuat
Paspor Inggris konsisten masuk jajaran paspor terkuat di dunia.
Pemegangnya dapat masuk lebih dari 180 negara tanpa visa rumit. Akses ini mencakup Amerika Serikat, Kanada, dan negara Uni Eropa.
Sebagai warga negara, anak memiliki hak tinggal dan bekerja di Inggris tanpa izin kerja tambahan.
3. Akses Layanan Kesehatan NHS
Inggris memiliki sistem layanan kesehatan publik bernama National Health Service.
Warga negara Inggris berhak memperoleh layanan medis dari pemeriksaan rutin hingga operasi besar secara gratis atau dengan biaya minimal.
Akses ini memberi jaminan layanan kesehatan jangka panjang.
4. Perlindungan Diplomatik Global
Warga negara Inggris memperoleh perlindungan dari kantor diplomatik Inggris di berbagai negara.
Dalam kondisi darurat, krisis politik, atau masalah hukum di luar negeri, mereka dapat mengakses bantuan konsuler Inggris.
5. Akses Budaya dan Bahasa Global
Anak dengan status British Citizen tumbuh dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu.
Kemampuan bahasa Inggris menjadi modal penting dalam pasar kerja internasional.
Anak juga memiliki pengalaman lintas budaya antara Indonesia dan Inggris.
Aturan Kewarganegaraan Indonesia
Indonesia mengatur kewarganegaraan melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006.
Indonesia belum mengakui kewarganegaraan ganda bagi orang dewasa.
Anak yang lahir dengan kewarganegaraan ganda dapat memegang dua paspor hingga usia 18 tahun.
Setelah usia 18 tahun, mereka memiliki waktu tiga tahun hingga usia 21 tahun untuk memilih salah satu kewarganegaraan.
Polemik Belum Mereda
Kasus Dwi Sasetyaningtyas terus menjadi perbincangan. Statusnya sebagai alumni LPDP memperbesar sorotan publik.
Sebagian warganet menilai pernyataannya bertentangan dengan semangat penerima beasiswa negara.
Isu ini memperlihatkan bagaimana pilihan kewarganegaraan dapat menjadi perdebatan ketika terkait dana publik dan identitas nasional.




