BerandaInternasionalKetegangan Memuncak, Warga Iran Bersiap Hadapi Ancaman Serangan AS

Ketegangan Memuncak, Warga Iran Bersiap Hadapi Ancaman Serangan AS

Independen Ekspos – Iran kembali berada di ambang ketegangan serius dengan Amerika Serikat. Risiko konflik terbuka semakin nyata setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mempertimbangkan serangan terbatas apabila kesepakatan nuklir dengan Teheran gagal tercapai dalam waktu dekat.

Iran melalui Kementerian Luar Negeri pada Senin (23/2/2026) menegaskan bahwa serangan sekecil apa pun akan dianggap sebagai tindakan agresi. Pernyataan ini mempertegas posisi Teheran yang tidak akan mentoleransi aksi militer tambahan dari Washington.

Ketegangan ini tidak hanya terasa di level diplomatik. Warga di ibu kota Teheran mulai hidup dalam kecemasan.

Hamid, seorang warga Teheran, mengaku tidak bisa tidur nyenyak meski sudah mengonsumsi obat. Ia mengaku lebih khawatir pada masa depan anak dan cucunya dibandingkan dirinya sendiri.

“Saya sudah menjalani hidup saya. Mereka belum merasakan hidup yang tenang dan nyaman. Saya takut mereka tidak akan mendapat kesempatan itu,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa dirasakan Hanieh, perajin keramik asal Teheran. Ia bahkan memprediksi perang bisa terjadi dalam 10 hari. Hanieh telah menyimpan kebutuhan pokok di rumahnya sebagai langkah antisipasi.

Ia mengaku trauma akibat konflik sebelumnya. Dalam perang 12 hari pada Juni 2025 antara Iran dan Israel, ia dan ibunya terpaksa mengungsi ke kota lain demi keselamatan.

Perang 12 hari Iran-Israel pada Juni 2025 menjadi bayang-bayang nyata bagi warga. Dalam konflik tersebut, Israel menyerang fasilitas militer dan lokasi nuklir utama Iran ketika Teheran bersiap melanjutkan perundingan dengan AS. Washington kemudian ikut bergabung dalam serangan itu.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal balistik ke kota-kota di Israel. Konflik tersebut menewaskan ribuan orang di Iran dan puluhan orang di Israel. Ibu kota Teheran termasuk wilayah yang menjadi sasaran serangan.

Trauma konflik itulah yang kini mendorong warga seperti Mina Ahmadvand, seorang teknisi IT, untuk bersiap lebih awal. Ia membeli selusin makanan kaleng, biskuit, air kemasan, serta baterai tambahan untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

“Saya pikir pada tahap ini perang tidak dapat dihindari,” katanya.

Negosiasi Nuklir Iran-AS kini menjadi titik penentu. Iran menyatakan siap menyerahkan rancangan proposal program nuklirnya kepada mediator dalam beberapa hari mendatang. Sebelumnya, pada Kamis (19/2/2026), Trump memberi tenggat maksimal 15 hari bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan.

Iran menegaskan program nuklirnya bertujuan untuk kepentingan sipil. Namun negara-negara Barat meyakini program tersebut berpotensi mengarah pada pengembangan senjata nuklir.

Teheran membatasi pembahasan hanya pada isu nuklir. Sebaliknya, AS mendesak agar program rudal Iran dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan turut dibahas.

Putaran kedua perundingan tidak langsung telah digelar di Swiss dengan mediasi Oman pekan lalu. Iran dan Oman mengonfirmasi pertemuan lanjutan akan berlangsung pada Kamis (26/2/2026).

Dampak Global Ketegangan Iran-AS mulai terlihat. Sejumlah negara seperti Swedia, Serbia, Polandia, Australia, dan terbaru India, menyerukan warganya untuk segera meninggalkan Iran.

Amerika Serikat juga memerintahkan personel non-darurat meninggalkan kedutaannya di Lebanon, yang menjadi basis Hizbullah, sekutu dekat Iran.

China turut memperingatkan Washington agar tidak memicu konflik baru. Duta Besar China untuk PBB di Jenewa, Shen Jian, menyatakan negaranya menentang penggunaan kekuatan dan penindasan sepihak dalam hubungan internasional.

Situasi saat ini menunjukkan kawasan Timur Tengah kembali berada di titik kritis. Nasib perundingan pekan ini akan menjadi penentu apakah ketegangan mereda melalui jalur diplomasi atau justru berubah menjadi konflik militer baru dengan dampak luas bagi stabilitas global.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses