Independen Ekspos | Serangan rudal Iran kembali mengguncang konflik di Timur Tengah. Pada Minggu, 15 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Iran meluncurkan serangan besar ke wilayah Israel. Salah satu senjata yang digunakan adalah rudal balistik Sejjil.
Serangan tersebut menandai momen penting. Untuk pertama kalinya, rudal Sejjil yang selama ini berperan sebagai alat pencegah strategis benar-benar digunakan dalam operasi tempur.
Rudal ini bukan senjata biasa. Sejjil dikenal sebagai rudal balistik jarak menengah dengan bahan bakar padat dan kemampuan peluncuran cepat. Teknologi itu membuatnya sulit dideteksi sebelum diluncurkan. Dalam beberapa laporan, rudal ini bahkan dijuluki “rudal penari” karena kemampuannya bermanuver di udara.
Bagaimana sebenarnya spesifikasi dan kemampuan Sejjil? Mengapa peluncurannya menjadi perhatian besar dalam konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat?
Serangan Rudal Iran Menghantam Israel
Pada Minggu, 15 Maret 2026, Iran melancarkan serangan yang disebut sebagai gelombang ke-54 dalam rangkaian operasi militer bernama Operasi Janji Setia 4.
Korps Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan pusat administrasi dan pengambilan keputusan yang berhubungan dengan operasi udara Israel. Selain itu, sejumlah lokasi yang digunakan militer Israel serta infrastruktur pertahanan juga menjadi sasaran.
Wilayah Tel Aviv menjadi salah satu target utama.
Sirene peringatan serangan udara terdengar di lebih dari 140 lokasi di kota tersebut. Sistem peringatan memaksa warga mencari perlindungan di bunker dan ruang aman.
Serangan rudal juga menyebabkan kerusakan di beberapa area permukiman. Pecahan rudal dilaporkan menghantam bangunan, termasuk area tempat tinggal yang terkait dengan konsulat Amerika Serikat.
Selain itu, beberapa wilayah di sekitar Tel Aviv ikut terdampak.
Di antaranya:
- Ramat Gan
- Petah Tikva
- Holon
Laporan dari otoritas Israel menyebut sedikitnya sembilan orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Sebuah rekaman video yang dirilis kepolisian Israel memperlihatkan salah satu rudal menghantam bangunan di wilayah Israel bagian tengah. Ledakan menyebabkan kerusakan pada struktur bangunan di sekitarnya.
Rudal Klaster dan Ledakan Beruntun
Serangan tersebut juga melibatkan rudal klaster.
Jenis rudal ini melepaskan sejumlah bom kecil ketika berada di udara. Setelah terpisah dari hulu ledak utama, bom-bom tersebut menyebar ke area yang lebih luas sebelum meledak.
Dampaknya dapat menjangkau beberapa titik sekaligus.
Laporan menyebutkan bahwa kerusakan di Tel Aviv sebagian dipicu oleh efek dari munisi jenis ini.
Teknik tersebut membuat satu rudal dapat menghasilkan beberapa titik ledakan dalam satu lintasan serangan.
Sejjil: Rudal Balistik Andalan Iran
Dalam pernyataan resmi, Korps Garda Revolusi Iran menyebut sejumlah rudal berat yang digunakan dalam operasi tersebut.
Beberapa di antaranya:
- Sejjil
- Khorramshahr
- Kheibar Shekan
- Qadr
- Emad
Rudal-rudal tersebut membawa hulu ledak berat dengan bobot antara 500 kilogram hingga 1,5 ton.
Di antara semua senjata itu, Sejjil menarik perhatian khusus.
Rudal ini termasuk salah satu sistem balistik paling canggih yang dikembangkan Iran.
Sejjil dan Julukan “Rudal Penari”
Sejjil dikenal dengan beberapa nama lain, antara lain:
- Sajjil
- Ashoura
- Ashura
Beberapa analis militer juga menyebutnya sebagai “dancing missile” atau rudal penari.
Julukan tersebut muncul karena karakteristik lintasan terbangnya.
Rudal ini dapat bermanuver pada ketinggian tinggi dan menyesuaikan lintasan selama penerbangan. Pergerakan tersebut membuat sistem pertahanan rudal lawan lebih sulit mengunci target.
Dalam kondisi tertentu, manuver itu membantu rudal menghindari intersepsi oleh sistem pertahanan udara.
Spesifikasi Teknis Rudal Sejjil
Menurut data dari lembaga penelitian keamanan internasional yang berbasis di Washington, Sejjil termasuk kategori rudal balistik jarak menengah.
Beberapa spesifikasi utama rudal ini antara lain:
Dimensi dan berat
- Panjang: sekitar 18 meter
- Diameter: sekitar 1,25 meter
- Berat peluncuran: sekitar 23.600 kilogram
Ukuran tersebut menempatkannya dalam kategori rudal strategis yang dirancang untuk menyerang target jarak jauh.
Jangkauan tembak
Sejjil mampu menjangkau target hingga sekitar 2.000 kilometer.
Dalam beberapa uji coba, rudal ini dilaporkan mencapai jarak sekitar 1.900 kilometer.
Dengan jangkauan tersebut, Sejjil dapat menjangkau banyak wilayah di Timur Tengah.
Kapasitas hulu ledak
Rudal ini dapat membawa bahan peledak sekitar 700 kilogram.
Namun dalam operasi militer yang lebih besar, sejumlah rudal lain yang diluncurkan bersama Sejjil dapat membawa hulu ledak hingga 1,5 ton.
Teknologi Bahan Bakar Padat
Salah satu keunggulan utama Sejjil terletak pada sistem bahan bakarnya.
Rudal ini menggunakan propelan padat.
Teknologi tersebut memberikan beberapa keuntungan penting.
1. Peluncuran lebih cepat
Rudal dengan bahan bakar padat dapat disimpan dalam kondisi siap pakai.
Artinya, rudal sudah berada dalam keadaan terisi bahan bakar sebelum diluncurkan.
Ketika perintah diberikan, peluncur hanya perlu menyalakan sistem dan rudal bisa segera ditembakkan.
2. Sulit dideteksi sebelum peluncuran
Rudal berbahan bakar cair biasanya membutuhkan waktu untuk pengisian bahan bakar sebelum peluncuran.
Proses tersebut dapat terdeteksi oleh satelit atau sistem pengawasan musuh.
Sebaliknya, rudal berbahan bakar padat tidak membutuhkan tahap itu.
Hal ini membuat peluncurannya lebih sulit diprediksi.
3. Mobilitas lebih tinggi
Sistem ini juga memudahkan transportasi dan penyimpanan rudal.
Unit peluncur dapat memindahkan rudal dengan lebih cepat dari satu lokasi ke lokasi lain.
Tantangan Kendali Rudal Bahan Bakar Padat
Meskipun memiliki banyak kelebihan, bahan bakar padat juga membawa tantangan teknis.
Rudal jenis ini lebih sulit dikendalikan setelah diluncurkan.
Perubahan arah atau koreksi lintasan membutuhkan sistem panduan yang lebih kompleks.
Namun para insinyur Iran diduga berhasil mengatasi masalah tersebut.
Mereka mengembangkan sistem navigasi dan panduan yang mampu menjaga akurasi rudal selama penerbangan.
Dalam versi terbaru, sistem panduan tersebut menggabungkan navigasi inersial dengan teknologi penentuan posisi berbasis satelit.
Sejarah Pengembangan Sejjil
Iran mulai mengembangkan sistem rudal Sejjil sejak awal 1990-an.
Program tersebut muncul sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan pertahanan strategis negara itu.
Uji coba pertama dilakukan pada tahun 2008.
Dalam uji coba awal, rudal tersebut dilaporkan menempuh jarak sekitar 800 kilometer.
Uji coba kedua berlangsung pada tahun 2009.
Pada tahap ini, Iran melakukan peningkatan pada sistem navigasi dan panduan.
Dalam pengujian selanjutnya, rudal tersebut disebut mampu mencapai jarak hingga 1.900 kilometer.
Hubungan dengan Program Rudal Lain
Sejjil tidak muncul begitu saja.
Pengembangannya berkaitan dengan beberapa sistem rudal lain yang telah dimiliki Iran sebelumnya.
Salah satunya adalah rudal jarak pendek Zelzal.
Rudal tersebut memberikan dasar teknologi bagi pengembangan sistem balistik yang lebih besar.
Selain itu, beberapa analis menduga bahwa desain Sejjil juga dipengaruhi oleh rudal milik negara lain.
Dua di antaranya adalah:
- DF-11
- DF-15
Keduanya merupakan rudal balistik yang dikembangkan di China.
Namun Sejjil memiliki perbedaan penting.
Iran mengembangkan sistem kendali yang memungkinkan rudal ini bermanuver lebih fleksibel.
Varian Rudal Sejjil
Seiring waktu, Iran mengembangkan beberapa versi rudal ini.
Sejjil-1
Ini merupakan versi awal yang digunakan dalam tahap pengujian.
Versi ini berfungsi sebagai dasar pengembangan teknologi bahan bakar padat.
Sejjil-2
Versi kedua membawa peningkatan pada sistem navigasi dan akurasi.
Beberapa laporan menyebut sistem ini menggunakan kombinasi GPS dan navigasi inersial.
Varian ini diduga menjadi tipe yang digunakan dalam konflik terbaru.
Sejjil-3
Iran juga disebut sedang mengembangkan generasi ketiga rudal tersebut.
Sejjil-3 diperkirakan menggunakan tiga tahap roket.
Jika pengembangan ini berhasil, jangkauannya dapat mencapai sekitar 4.000 kilometer.
Berat peluncurannya diperkirakan sekitar 38.000 kilogram.
Dari Senjata Penangkal Menjadi Senjata Tempur
Selama bertahun-tahun, Sejjil dipandang sebagai bagian dari strategi pencegahan Iran.
Artinya, rudal tersebut dirancang untuk menimbulkan efek penangkal terhadap musuh potensial.
Keberadaannya membuat negara lain harus mempertimbangkan risiko besar sebelum melakukan serangan.
Namun peluncuran pada Maret 2026 mengubah peran itu.
Sejjil kini tidak lagi hanya menjadi alat pencegah.
Rudal tersebut telah digunakan langsung dalam operasi militer.
Konflik yang Semakin Memanas
Serangan rudal ini terjadi ketika konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat memasuki minggu ketiga.
Ketegangan meningkat sejak serangan awal yang menghantam Teheran pada hari pertama konflik.
Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Setelah kejadian itu, putranya Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.
Namun hingga kini ia belum muncul di hadapan publik.
Beberapa laporan menyebut ia mengalami luka serius dalam serangan yang sama.
Makna Strategis Peluncuran Sejjil
Penggunaan Sejjil dalam konflik ini membawa pesan strategis yang kuat.
Rudal ini merupakan salah satu sistem balistik paling maju yang dimiliki Iran.
Kemampuannya untuk diluncurkan cepat dan menjangkau jarak jauh membuatnya menjadi ancaman serius bagi wilayah lawan.
Dalam operasi militer modern, kemampuan tersebut berperan besar.
Rudal balistik dapat menyerang target penting tanpa perlu mengirim pesawat atau pasukan darat.
Serangan terjadi dalam hitungan menit setelah peluncuran.


