Kritik Tajam Schumer: “Anda Bercanda?”
Independen Ekspos | Pemimpin Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer, melontarkan kritik terbuka kepada Presiden Donald Trump. Ia menyoroti permintaan Presiden AS tersebut kepada China untuk membantu membuka Selat Hormuz.
Schumer menulis di media sosial, “Donald Trump bilang dia berharap China membantu kami membersihkan Selat Hormuz. Anda bercanda?”
Ia menilai langkah tersebut menunjukkan lemahnya arah kebijakan. Menurut dia, Trump menciptakan situasi yang tidak terkendali di Timur Tengah tanpa rencana akhir yang jelas.
“Donald Trump menciptakan kekacauan di Timur Tengah dan dia jelas tak punya cara bagaimana mengakhirinya,” kata Schumer.
Donald Trump says he’s hoping China will help us clear the Strait of Hormuz. Are you kidding me?
Donald Trump created a mess in the Middle East, and he clearly has no plan for how to end it.
— Chuck Schumer (@SenSchumer) March 16, 2026
Akar Krisis: Serangan dan Balasan
Konflik memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Serangan itu menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pejabat militer, dan ribuan warga.
Iran merespons cepat. Mereka meluncurkan serangan balasan ke Israel dan aset militer AS di kawasan Teluk.
Langkah paling berdampak datang saat Iran menutup Selat Hormuz. Jalur ini menjadi nadi perdagangan minyak global. Penutupan ini langsung mengguncang pasokan energi dunia.
Trump Minta Bantuan Dunia
Tekanan meningkat. Trump lalu meminta bantuan banyak negara. Ia menyebut China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris.
Ia juga mendorong negara lain mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.
Dalam pernyataannya, Ia menegaskan negara yang menikmati jalur perdagangan itu harus ikut menjaga keamanannya.
“Saya pikir China juga harus membantu,” ujarnya.
Trump bahkan mempertimbangkan menunda kunjungan ke China agar fokus pada operasi yang sedang berjalan.
Minim Respons: Sekutu Mulai Menjauh
Ajakan Trump tidak mendapat respons kuat. Hingga kini, belum ada negara yang menyatakan komitmen resmi mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Beberapa negara Eropa seperti Jerman, Spanyol, dan Italia menolak permintaan tersebut. Jepang juga menyatakan tidak memiliki rencana untuk ikut dalam misi pengawalan.
Situasi ini memperlihatkan dukungan internasional yang terbatas.
China Pilih Nada Hati-Hati
China tidak langsung menyetujui permintaan Trump. Juru bicara Kedutaan Besar China di AS, Liu Pengyu, menekankan pentingnya stabilitas pasokan energi.
“Semua pihak bertanggung jawab untuk memastikan pasokan energi stabil dan tidak terhambat,” ujarnya.
Ia menambahkan China akan memperkuat komunikasi dengan berbagai pihak untuk menurunkan ketegangan.
China memiliki hubungan dekat dengan Iran. Sikap hati-hati ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan di tengah konflik.
Kritik dari Dalam: Persiapan Dinilai Lemah
Kritik tidak hanya datang dari oposisi. Mantan penasihat keamanan nasional, John Bolton, juga menyoroti perencanaan perang.
Ia menyebut persiapan politik tidak dilakukan dengan baik. Dalam wawancara, ia menilai ada masalah serius dalam pendekatan yang diambil.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Global
Selat Hormuz kini menjadi pusat krisis. Jalur sempit ini mengalirkan sebagian besar minyak dunia.
Ketika jalur ini ditutup, dampaknya langsung terasa. Harga energi berisiko naik. Rantai pasok terganggu.
Pertanyaannya kini sederhana. Siapa yang akan bergerak membuka jalur ini?
Sampai saat ini, jawaban itu belum terlihat.


