Eropa Kompak Tolak Permintaan Trump
Independen Ekspos | Sejumlah pemimpin Eropa menolak permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Mereka tidak ingin terlibat dalam operasi militer yang dipicu konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Pertemuan Uni Eropa di Brussels pada Senin 16 Maret menjadi titik jelas sikap itu. Negara-negara utama Eropa memilih jalur diplomasi. Mereka juga meminta kejelasan tujuan perang sebelum mengambil langkah lanjutan.
Jerman Tegas: “Ini Bukan Perang Kami”
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menegaskan negaranya tidak akan ikut operasi militer di Selat Hormuz.
Ia meminta Amerika Serikat dan Israel menjelaskan tujuan strategi mereka. Setelah itu, barulah dibahas arsitektur keamanan kawasan bersama negara sekitar.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyampaikan sikap lebih keras.
“Ini bukan perang kita. Kami belum memulainya.”
Ia juga mempertanyakan efektivitas keterlibatan Eropa.
“Apa yang Trump harapkan dari segelintir fregat Eropa di Selat Hormuz yang tidak bisa dilakukan Angkatan Laut AS?”
Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan tidak ada keputusan bersama untuk intervensi. Artinya, opsi militer tidak masuk agenda.
Juru bicara pemerintah, Stefan Kornelius, menambahkan konflik ini tidak terkait NATO.
Inggris Ikut Menjauh dari Operasi Militer
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyampaikan posisi serupa.
“Biarkan saya jelaskan: itu tidak akan, dan tidak pernah direncanakan sebagai misi NATO.”
Ia menegaskan Inggris tidak akan terseret ke perang yang lebih luas.
Namun Inggris tetap membuka opsi terbatas. Pemerintah sedang membahas penggunaan drone pemburu ranjau yang sudah ada di kawasan.
Tujuannya jelas. Menjaga jalur pelayaran tetap aman tanpa masuk konflik terbuka.
Uni Eropa Pilih Diplomasi, Tolak Perluasan Misi Militer
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengakui tidak ada dukungan untuk memperluas misi laut di kawasan.
Ia menyatakan tidak ada keinginan negara anggota untuk mengubah mandat operasi Aspides.
“Tidak ada yang ingin bergerak aktif di perang ini.”
Italia juga menolak keterlibatan militer. Menteri Luar Negeri Antonio Tajani menegaskan diplomasi harus diutamakan.
Yunani, Belanda, dan negara lain juga menunjukkan sikap serupa. Mereka menilai misi militer sulit dilakukan dalam waktu singkat.
Tekanan Trump ke NATO Meningkat
Trump terus menekan sekutu. Ia meminta negara yang menikmati jalur energi global ikut bertanggung jawab menjaga Selat Hormuz.
Ia bahkan memperingatkan masa depan NATO.
“Jika tidak ada respons atau respons negatif, itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO.”
Trump juga mengaku tidak puas dengan sikap Inggris. Ia menilai sekutu lama itu seharusnya lebih aktif.
Selat Hormuz Jadi Titik Kunci Energi Dunia
Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati wilayah ini.
Penutupan jalur akibat konflik membuat harga energi melonjak. Dampaknya langsung terasa di pasar global.
Bayangkan jalan tol utama ditutup. Distribusi terganggu. Harga ikut naik. Situasinya serupa.
Konflik Meluas, Dampak Makin Terasa
Serangan terus terjadi di berbagai titik. Israel meluncurkan serangan ke kota-kota di Iran seperti Teheran, Shiraz, dan Tabriz.
Iran membalas dengan rudal dan drone ke wilayah Israel.
Serangan juga merembet ke Teluk. Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab sempat terbakar akibat serangan drone. Operasi minyak terganggu.
Bandara Dubai juga terdampak insiden serupa. Penerbangan sempat terganggu.
Korban dan Eskalasi Militer Bertambah
Amerika Serikat melaporkan sekitar 200 tentaranya terluka. Sebagian besar sudah kembali bertugas. Sebanyak 13 tentara tewas sejak konflik dimulai akhir Februari.
Di Iran, laporan menyebut lebih dari 1.800 orang tewas. Lebih dari 1.200 di antaranya warga sipil.
Di Lebanon, konflik dengan Hezbollah menewaskan sedikitnya 850 orang, termasuk lebih dari 100 anak.
Eropa Tunggu Jawaban: Apa Tujuan Akhirnya?
Pertanyaan utama muncul. Apa sebenarnya tujuan strategi Amerika Serikat?
Menteri Luar Negeri Estonia Margus Tsahkna menyuarakan keraguan itu.
“Apa tujuan strategisnya? Apa rencananya?”
Eropa tidak menutup pintu sepenuhnya. Namun mereka ingin kejelasan sebelum bertindak.
Tanpa arah yang jelas, mereka memilih menahan diri.
Retak di NATO Terlihat Jelas
Permintaan Trump membuka garis retak di antara sekutu Barat.
Eropa memilih diplomasi. Amerika Serikat mendorong aksi militer.
Selat Hormuz kini bukan hanya jalur energi. Ia berubah menjadi ujian bagi soliditas NATO.
Pertanyaannya sederhana. Apakah aliansi ini masih satu arah, atau mulai berjalan sendiri-sendiri?


