Independen Ekspos – Pakistan bombardir Afghanistan pada Jumat 27 Februari 2026. Serangan menyasar Kabul dan dua provinsi lain beberapa jam setelah aksi lintas perbatasan terjadi. Konflik ini memicu eskalasi baru meski kedua negara sempat menandatangani gencatan senjata pada 2025 yang dimediasi Qatar.
Pakistan bombardir Afghanistan setelah pasukan Afghanistan lebih dulu menyerang pos perbatasan Pakistan pada Kamis malam. Pemerintah Taliban menyebut serangan itu sebagai balasan atas serangan udara mematikan sebelumnya.
Pada Jumat pagi, sedikitnya tiga ledakan terdengar di Kabul. Lokasi pasti ledakan belum diumumkan. Informasi korban di ibu kota juga belum dirinci.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan militer siap menghancurkan agresor. Ia menegaskan seluruh rakyat Pakistan mendukung angkatan bersenjata. Pernyataan itu disampaikan melalui akun resmi pemerintah di platform X.
Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, menyebut serangan udara sebagai respons setimpal terhadap agresi Taliban Afghanistan.
Di pihak Afghanistan, juru bicara pemerintah Zabihullah Mujahid menyatakan Pakistan juga menyerang Kandahar di selatan. Ia menyebut serangan terjadi di wilayah tenggara Pakistan.
Data Korban Berbeda Tajam
Kementerian Pertahanan Afghanistan mengklaim 55 tentara Pakistan tewas dalam serangan Kamis malam. Afghanistan juga menyebut beberapa jenazah dibawa ke wilayahnya dan sejumlah tentara Pakistan ditangkap hidup-hidup. Afghanistan melaporkan delapan tentaranya tewas dan 11 orang terluka.
Namun Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyatakan hanya dua tentara Pakistan tewas dan tiga terluka. Ia mengklaim 36 pejuang Afghanistan tewas.
Juru bicara Perdana Menteri Pakistan, Mosharraf Ali Zaidi, membantah adanya tentara Pakistan yang ditangkap.
Perbedaan angka korban ini menunjukkan perang informasi di tengah konflik bersenjata.
Perbatasan Garis Durand Kembali Memanas
Pakistan dan Afghanistan berbagi perbatasan sepanjang 2.611 kilometer yang dikenal sebagai Garis Durand. Afghanistan tidak pernah mengakui garis ini secara resmi.
Hubungan kedua negara memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Sejak bentrokan mematikan Oktober lalu yang menewaskan lebih dari 70 orang di kedua sisi, sebagian besar penyeberangan darat ditutup.
Islamabad menuduh Kabul gagal menindak kelompok militan yang menyerang wilayah Pakistan. Pemerintahan Taliban membantah tuduhan tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mendesak kedua pihak melindungi warga sipil sesuai hukum internasional. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, meminta penyelesaian lewat diplomasi.
Warga Sipil Jadi Korban
Pihak berwenang Afghanistan mengevakuasi kamp pengungsi di dekat perbatasan Torkham. Sebanyak 13 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas. Beberapa pengungsi lainnya terluka.
Di sisi Pakistan, polisi mengevakuasi warga ke lokasi aman. Pengungsi Afghanistan yang menunggu penyeberangan juga dipindahkan.
Kekerasan terbaru ini memperlihatkan rapuhnya kesepakatan damai yang dimediasi Qatar dan Turki pada Oktober lalu. Upaya menciptakan stabilitas di kawasan perbatasan kembali terancam gagal.
Konflik lintas batas kini memasuki fase terbuka. Klaim saling serang dan data korban yang berbeda memperlihatkan situasi masih sangat tegang.


