BerandaInternasionalAyatollah Ali Khamenei Pemimpin Spiritual Iran Keturunan Nabi Muhammad

Ayatollah Ali Khamenei Pemimpin Spiritual Iran Keturunan Nabi Muhammad

Independen Ekspos – Kematian Ayatollah Ali Khamenei mengguncang Iran. Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran itu dilaporkan wafat dalam serangan Israel–Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Kabar duka atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pertama kali disampaikan televisi pemerintah Iran, IRINN, dan dikutip sejumlah media Barat pada Minggu, 29 Februari 2026. Pemerintah Iran langsung menetapkan 40 hari berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional.

Dalam siaran khususnya, IRINN menampilkan foto Ayatollah Ali Khamenei dengan latar lantunan Al-Quran serta spanduk hitam di sudut layar. Suasana duka menyelimuti negara itu.

Figur Spiritual dan Keturunan Nabi

Ayatollah Ali Khamenei bukan hanya pemimpin politik. Ia dikenal sebagai figur spiritual berpengaruh dalam tradisi Syiah.

Dalam tradisi tersebut, Khamenei menyandang gelar sayyid, yakni keturunan Nabi Muhammad SAW melalui jalur putri Nabi, Fatimah, dan Imam Ali Zayn al-Abidin. Ia diyakini sebagai keturunan Nabi dari jalur Imam Husein, cucu Rasulullah.

Silsilahnya disebut terhubung melalui Imam ke-4 Syiah, Ali al-Sajjad, hingga generasi ke-38 Nabi Muhammad SAW. Garis keturunan ini memperkuat legitimasi religius dan otoritas spiritualnya di mata para pendukung.

Khamenei juga kerap mengenakan sorban hitam, simbol keturunan Nabi dalam tradisi Islam Syiah.

Panglima Tertinggi Republik Islam

Secara konstitusional, Khamenei memegang jabatan tertinggi negara. Berdasarkan Pasal 107 dan 110 Konstitusi Republik Islam Iran, ia adalah Pemimpin Tertinggi sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata.

Ia menjadi Rahbar Iran sejak 4 Juni 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini yang wafat pada tahun yang sama. Pelantikannya berlangsung pada 6 Agustus 1989.

Sejak saat itu, Khamenei menjadi pemimpin dengan masa jabatan terlama di era modern Iran. Ia memegang kendali penuh atas militer dan kebijakan strategis negara.

Tokoh Revolusi dan Karier Politik Panjang

Ayatollah Ali Khamenei merupakan bagian penting dari Revolusi Iran 1978 yang meruntuhkan rezim Reza Pahlavi yang condong pro-Barat.

Setelah revolusi, ia menjabat sebagai anggota Dewan Revolusi, Imam Salat Jumat Teheran, serta Wakil Menteri Pertahanan. Ia juga pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Islam dan menjabat Presiden Iran selama dua periode sebelum akhirnya terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi oleh Majelis Ahli pada 1989.

Serangan Mematikan dan Ancaman Balasan

Serangan rudal AS–Israel yang menewaskan Khamenei juga dilaporkan merenggut nyawa sejumlah anggota keluarganya, termasuk menantu, anak, dan cucu.

Pemerintah Iran menegaskan tidak akan berhenti melawan. Militer Iran bahkan berjanji akan membalas kematian Khamenei dan menyebutnya sebagai awal pemberontakan Republik Islam terhadap para penindas.

Hingga kini, belum diketahui siapa yang akan menggantikan Khamenei. Namun sebelum pertempuran pecah, ia disebut telah menyiapkan calon pengganti.

Masa Depan Republik Islam Dipertanyakan

Kematian Ayatollah Ali Khamenei memunculkan tanda tanya besar: apakah ini menjadi awal runtuhnya Republik Islam Iran?

Dalam beberapa waktu terakhir, gelombang unjuk rasa dari kelompok liberal di Iran terus menguat. Aksi tersebut dipicu frustrasi terhadap kondisi ekonomi, terutama setelah minyak Iran diblokir oleh Barat.

Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan yang terjadi belakangan ini.

Kini, Iran berada di titik krusial. Duka nasional bercampur dengan ancaman eskalasi militer dan ketidakpastian politik yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern Republik Islam.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses