Independen Ekspos – Harga energi melonjak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan gelombang serangan ke Iran akhir pekan lalu. Kenaikan harga gas alam dan minyak mentah global langsung terasa, memicu perang pernyataan sengit antara Partai Demokrat dan Partai Republik di Washington.
Kenaikan ini sebelumnya sudah diperingatkan sejumlah politisi Demokrat. Kini, ketika harga mulai bergerak naik, mereka menuding kebijakan Presiden Donald Trump sebagai pemicu beban baru bagi masyarakat Amerika.
Pemimpin Mayoritas Senat John Thune mencoba meredam kekhawatiran. Ia menyatakan harga diperkirakan kembali stabil jika konflik segera mereda.
“Saya berharap akan ada penghentian dalam waktu dekat, dan saat itu harga akan stabil,” kata Thune. Ia menambahkan, setiap gejolak di Timur Tengah hampir selalu memicu kenaikan harga minyak.
Sejumlah senator Republik lain juga meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan dampak jangka panjang. Senator John Curtis menilai fluktuasi harga masih menjadi isu lapis kedua untuk saat ini. Senator Bill Cassidy bahkan menyebut terlalu dini menyatakan situasi ini sebagai masalah besar.
Ketua Komite Lingkungan dan Pekerjaan Umum Senat, Shelley Moore Capito, menegaskan Amerika kini lebih mandiri dalam produksi energi domestik. Menurutnya, kebijakan peningkatan produksi dalam negeri menjadi bantalan yang bisa meredam lonjakan harga akibat konflik luar negeri.
“Kita punya kemampuan memproduksi pasokan sendiri. Saya tidak terlalu khawatir,” ujarnya.
Namun Capito mengakui, jika perang berlarut-larut dan harga di pompa bensin terus naik, pemilih bisa frustrasi. “Saat mereka merasakan harga di pompa naik, mereka tidak suka,” katanya.
Isu ini menjadi sensitif di tahun pemilu, ketika persoalan daya beli dan keterjangkauan harga menjadi fokus utama. Presiden Trump sendiri memperingatkan konflik bisa berlangsung berminggu-minggu.
Dari kubu Demokrat, kritik lebih keras disampaikan Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer. Ia menegaskan rakyat Amerika tidak menginginkan perang yang membuat harga bensin melonjak.
Senator Ed Markey menuding perang terhadap Iran akan mendorong harga minyak meroket dan menguntungkan perusahaan minyak besar.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dalam pengarahan kepada pimpinan Kongres mengakui pemerintah sudah memperhitungkan dampak serangan terhadap harga energi. Ia menyebut Menteri Energi Chris Wright dan Menteri Keuangan Scott Bessent sedang menyiapkan respons yang akan diumumkan.
Rubio dijadwalkan kembali memberi penjelasan bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth di hadapan anggota DPR dan Senat untuk menjawab kekhawatiran lanjutan.
Senator Martin Heinrich, anggota senior Demokrat di Komite Energi dan Sumber Daya Alam, menilai pemerintah belum memaparkan strategi yang jelas.
“Apakah ada strategi? Apa tujuannya? Saat ini itu belum terlihat, sementara konsumen Amerika harus membayar harga energi yang nyata,” tegas Heinrich.
Lonjakan harga energi ini menjadi ujian politik sekaligus ekonomi. Jika konflik berlanjut, dampaknya tidak hanya terasa di Timur Tengah, tetapi juga langsung menyentuh dompet warga Amerika melalui kenaikan harga bahan bakar dan energi rumah tangga.


