Independen Ekspos – INVASI ISRAEL ke Lebanon kembali memicu ketegangan besar di kawasan. Militer Israel menyatakan pasukannya kini “beroperasi di Lebanon selatan” dalam sebuah serangan darat baru yang disebut sebagai langkah “pertahanan maju” di sepanjang perbatasan.
Pernyataan itu muncul di tengah eskalasi konflik regional yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi ini membuka front baru peperangan yang sebelumnya telah berlangsung sepanjang 2023–2024.
Sumber militer Lebanon mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tentara Lebanon menarik pasukan dari area perbatasan demi keselamatan personel akibat meningkatnya serangan Israel. Kantor berita nasional Lebanon melaporkan evakuasi dari sejumlah posisi garis depan, sementara Reuters menyebut setidaknya tujuh pos operasi telah ditinggalkan berdasarkan keterangan saksi.
Israel Perluas Kendali Wilayah
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan militer telah diperintahkan untuk “maju dan merebut area kendali tambahan di Lebanon” guna mencegah penembakan ke permukiman perbatasan Israel.
Juru bicara militer Letnan Kolonel Nadav Shoshani menegaskan pasukan telah ditempatkan di sejumlah titik tambahan untuk melindungi warga sipil Israel dari serangan Hezbollah.
Namun analis keamanan yang berbasis di Beirut, Ali Rizk, memperingatkan agar publik menyikapi klaim Israel dengan hati-hati. Ia menilai langkah tersebut belum tentu menjadi awal operasi besar di darat. Menurutnya, konfrontasi darat dalam konflik sebelumnya terbukti sangat mahal bagi Israel, termasuk dalam perang 2024.
Beirut Dibombardir, Hezbollah Balas Serangan Drone
Di sisi lain, Israel kembali membombardir Beirut untuk hari kedua berturut-turut. Serangan udara menghantam kawasan selatan Dahiyeh pada Selasa sore, setelah tiga gelombang serangan terjadi pada pagi hari.
Media pemerintah Lebanon melaporkan serangan intens tersebut menyebabkan kerusakan luas pada bangunan. Militer Israel bahkan mengeluarkan peringatan pengungsian paksa untuk 59 wilayah di Lebanon, termasuk sejumlah lingkungan di Dahiyeh yang dikenal sebagai basis dukungan Hezbollah.
Melalui Telegram, militer Israel mengklaim menargetkan pusat komando dan fasilitas penyimpanan senjata Hezbollah di Beirut.
Sebagai balasan, Hezbollah mengumumkan serangan ke pangkalan udara Ramat David di Israel utara menggunakan “gerombolan drone” yang menyasar radar dan ruang kendali. Serangan itu disebut sebagai respons atas gempuran Israel di berbagai wilayah Lebanon.
Pada Senin, serangan udara Israel di pinggiran Beirut dan Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 52 orang dan melukai 154 lainnya menurut media pemerintah. Serangan tersebut terjadi setelah Hezbollah meluncurkan rentetan rudal dan drone ke situs militer Israel di Haifa untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun.
Puluhan Ribu Warga Mengungsi
Badan Pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan sedikitnya 30.000 orang mengungsi sejak permusuhan antara Israel dan Hezbollah kembali pecah pada Senin.
Juru bicara UNHCR, Babar Baloch, menyebut banyak warga tidur di dalam mobil atau terjebak kemacetan panjang saat berusaha menyelamatkan diri. Sekolah-sekolah di Beirut bahkan ditutup dan dialihfungsikan menjadi tempat penampungan darurat.
Sepanjang perang 2023–2024, ribuan warga sipil Lebanon tewas dan mengalami pengungsian massal. Pelanggaran gencatan senjata yang disepakati pada November 2024 terus terjadi hingga konflik terbaru ini kembali meledak.
Presiden Lebanon Larang Aktivitas Militer Hezbollah
Presiden Lebanon, Michel Aoun, menegaskan keputusan pemerintah untuk melarang aktivitas militer Hezbollah bersifat final dan tidak dapat ditarik kembali.
Ia menyatakan kabinet mewajibkan Hezbollah menyerahkan senjata kepada negara. Menurutnya, keputusan perang dan damai sepenuhnya berada di tangan pemerintah Beirut.
Keputusan ini diambil setelah Hezbollah menembakkan roket ke Israel sebagai respons atas ratusan serangan Israel yang disebut melanggar gencatan senjata November 2024, serta sebagai reaksi terhadap perang Israel-AS melawan Iran.
Hezbollah menilai larangan tersebut tidak beralasan. Kelompok itu menyebut pemerintah Lebanon lemah menghadapi apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran kedaulatan oleh Israel. Meski mengakui hak pemerintah menentukan perang dan damai, Hezbollah menolak langkah yang dianggap menyerang kelompok Lebanon yang menolak pendudukan.
Ketegangan Menuju Perang Terbuka
Seorang pejabat senior Hezbollah, Mahmoud Qmati, menyatakan serangan Israel tidak menyisakan pilihan selain “kembali ke perlawanan”. Ia bahkan menyebut jika Israel menginginkan perang terbuka, maka perang terbuka akan terjadi.
Situasi di perbatasan kini sangat tegang. Serangan darat, bombardir udara, dan saling balas drone menandai eskalasi yang berpotensi meluas menjadi konflik regional yang lebih besar.


