Independen Ekspos – Jerman memastikan tidak akan terlibat dalam perang melawan Republik Islam Iran yang diinisiasi oleh penjajah Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS). Sikap tegas ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Jerman menegaskan bahwa meskipun menjadi anggota NATO, Berlin tidak akan ikut dalam agresi militer terhadap Iran. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Jerman memilih jalur diplomasi dibanding konfrontasi bersenjata.
“Kami tidak akan bergabung dalam perang melawan Iran,” tegas Pistorius seperti dikutip dari Anadolu Agency, Rabu (4/3/2026). Ia menambahkan bahwa pemerintah Jerman hanya akan berupaya meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi konflik lebih luas.
Inggris dan Spanyol Juga Menolak
Penolakan Jerman bukan yang pertama di Eropa. Inggris sebelumnya telah menyatakan tidak akan terlibat dalam perang tersebut. Sikap serupa bahkan ditunjukkan oleh Spanyol dengan langkah yang lebih tegas.
Spanyol bukan hanya menolak bergabung, tetapi juga melarang wilayah dan pangkalan militer AS di negaranya digunakan untuk menyerang Iran. Kebijakan ini memicu ketegangan diplomatik baru antara Madrid dan Washington.
Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan menyampaikan kemarahannya terhadap Spanyol. Ia bahkan mengancam akan memutus hubungan dagang dengan negara tersebut sebagai bentuk tekanan politik.
Perang Iran Memanas Sejak 28 Februari
Perang di Timur Tengah dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan misil dan rudal dilancarkan oleh Israel dan AS ke wilayah Iran. Serangan awal tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama istri, menantu, dan cucunya. Sejumlah petinggi militer Iran juga dilaporkan gugur.
Iran tidak tinggal diam. Republik Islam itu melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke wilayah pendudukan Israel serta pangkalan militer AS di beberapa negara Teluk.
Pangkalan AS di Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Arab Saudi dilaporkan mengalami dampak serius akibat serangan balasan tersebut. Situasi ini memicu kemarahan sejumlah negara Arab karena wilayah mereka ikut terdampak konflik.
Jerman Pilih Jalur Diplomasi
Di tengah eskalasi tersebut, Jerman mengambil posisi berbeda. Alih-alih ikut berperang, Berlin memilih menempatkan diri sebagai pihak yang mendorong stabilitas dan deeskalasi.
Sikap ini menunjukkan bahwa solidaritas dalam NATO tidak selalu berarti keterlibatan otomatis dalam setiap konflik yang dipimpin sekutu. Jerman menegaskan prioritasnya adalah menjaga stabilitas kawasan dan mencegah perang meluas.
Keputusan ini menjadi sorotan internasional karena memperlihatkan perbedaan sikap di antara negara-negara Barat terkait konflik Iran.


