Independen Ekspos – Pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memicu kontroversi tajam setelah ia menyebut Iran harus diserang karena menganut “delusi kenabian Islam”. Ucapan itu dinilai berbahaya dan berpotensi memicu narasi perang agama di tengah ketegangan militer yang meningkat.
Pernyataan Hegseth disampaikan dalam pidatonya pada Senin waktu Amerika Serikat. Ia membenarkan operasi militer besar terhadap Teheran yang diperintahkan Presiden Donald Trump.
“Rezim gila seperti Iran, yang sangat bergantung pada delusi Islam yang bersifat kenabian, tidak dapat memiliki senjata nuklir,” ujar Hegseth dalam konferensi pers resmi.
Operasi militer AS disebut Hegseth sebagai “operasi udara paling mematikan, paling kompleks dan paling tepat dalam sejarah.” Operasi itu diluncurkan dua hari sebelumnya atas perintah langsung Trump. Namun, tidak dijelaskan rincian teknis maupun lokasi spesifik serangan dalam pernyataan tersebut.
Iran dituduh memicu konflik selama puluhan tahun melalui kekuatan proksi dan serangan terhadap target Amerika di Timur Tengah. Hegseth menegaskan bahwa Washington tidak memulai perang, tetapi akan mengakhirinya.
“Kami tidak memulai perang ini, namun di bawah kepemimpinan Presiden Trump, kami menyelesaikannya,” kata Hegseth. Ia juga memperingatkan bahwa siapa pun yang membunuh atau mengancam warga Amerika akan diburu tanpa kompromi.
Isu keyakinan Syiah jadi sorotan. Pernyataan “delusi kenabian Islam” diduga mengarah pada keyakinan mayoritas Muslim Syiah di Iran mengenai kedatangan Imam Mahdi di akhir zaman. Kepercayaan tersebut bersumber dari hadis Nabi Muhammad dan juga dikenal dalam tradisi Ahlussunnah.
Pernyataan tersebut dinilai bukan sekadar kritik politik, tetapi menyentuh aspek teologis yang sensitif. Hal inilah yang memicu kecaman keras dari berbagai pihak.
Kecaman datang dari CAIR. Organisasi advokasi Muslim Amerika, Council on American-Islamic Relations (CAIR), menyebut retorika Hegseth sebagai berbahaya dan mengarah pada narasi “perang suci”.
“Setiap orang Amerika harus sangat terganggu dengan retorika ‘perang suci’ yang dilaporkan digunakan oleh Menteri Hegseth, Benjamin Netanyahu dan bahkan beberapa komandan militer AS untuk membenarkan perang terhadap Iran,” tulis CAIR dalam pernyataan resminya.
CAIR juga menyinggung Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang disebut kembali menggunakan kisah Alkitab tentang Amalek untuk membenarkan tindakan militer terhadap Iran, sebagaimana yang sebelumnya terjadi di Gaza.
Menurut CAIR, penggunaan narasi keagamaan untuk membenarkan operasi militer berisiko mengubah konflik geopolitik menjadi perang agama yang lebih luas dan tidak terkendali.
Rekam jejak Hegseth ikut disorot. Ia dikenal lama sebagai komentator televisi dengan pandangan keras terhadap Islam. Ia pernah menulis buku yang mendorong semangat “Perang Salib” baru dan memiliki tato bertuliskan “kafir” dalam huruf Arab di lengannya.
Konteks tersebut memperkuat kritik bahwa pernyataannya bukan sekadar kebijakan keamanan nasional, melainkan mengandung dimensi ideologis.
Garis tegas soal nuklir. Dalam pernyataannya, Hegseth menegaskan kembali posisi Washington bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir. Ia menyebut Presiden Trump telah menarik “garis yang jelas” setelah bertahun-tahun menghadapi sikap agresif Iran.
Namun, hingga kini belum ada rincian tambahan mengenai dampak operasi militer tersebut maupun respons resmi terbaru dari pemerintah Iran.
Kontroversi ini memperlihatkan betapa sensitifnya penggunaan bahasa agama dalam konflik internasional. Pernyataan pejabat tinggi seperti Menteri Pertahanan berpotensi memperluas dampak konflik, tidak hanya secara militer tetapi juga sosial dan keagamaan.


