BerandaOlahragaVinicius Jr Lapor Dugaan Rasisme, Laga Benfica vs Real Madrid Dihentikan 10...

Vinicius Jr Lapor Dugaan Rasisme, Laga Benfica vs Real Madrid Dihentikan 10 Menit

Independen Ekspos | Laga play-off fase gugur Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid dihentikan sekitar 10 menit di babak kedua. Penghentian terjadi setelah Vinicius Junior melaporkan dugaan pelecehan rasial.

Pertandingan berlangsung di Estadio da Luz. Vinicius membawa Madrid unggul 1-0 pada menit ke-50 lewat gol yang disebut luar biasa oleh rekan setimnya. Setelah mencetak gol, ia merayakan di depan suporter tuan rumah.

Wasit Francois Letexier memberi kartu kuning kepada Vinicius karena selebrasi berlebihan. Situasi memanas saat pemain Benfica, Gianluca Prestianni, berinteraksi dengannya sambil menutup mulut dengan jersey.

Vinicius lalu menghampiri wasit dan menunjuk ke arah Prestianni. Letexier menyilangkan tangan di depan dada. Gestur ini merupakan sinyal resmi dugaan rasisme sesuai protokol FIFA.

Tim Madrid Sempat Tinggalkan Lapangan

Vinicius berjalan keluar lapangan dan diikuti rekan-rekannya. Laga terhenti sekitar 10 menit dan kembali dilanjutkan pada menit ke-60.

Wasit berbicara dengan kedua kapten, Federico Valverde dan Nicolas Otamendi. Seorang staf Benfica menerima kartu merah saat jeda insiden berlangsung.

Pertandingan akhirnya selesai dengan kemenangan 1-0 untuk Madrid. Namun insiden tidak berhenti di situ. Pada masa tambahan waktu 12 menit, benda dari tribun mengenai lengan Vinicius. Lemparan juga terjadi saat ia bersiap mengambil sepak pojok.

Apa Itu Gestur “No Racism” FIFA?

FIFA mengesahkan gestur silang tangan pada Kongres ke-74 di Bangkok, 17 Mei 2024. Pemain atau ofisial dapat menyilangkan tangan di pergelangan untuk melapor dugaan rasisme kepada wasit.

Setelah sinyal diberikan, wasit menjalankan prosedur tiga tahap. UEFA telah memiliki protokol serupa sejak 2009. Jika pelanggaran berlanjut, wasit bisa menghentikan sementara hingga menghentikan total pertandingan.

Laporan pertandingan akan diserahkan Letexier kepada otoritas disiplin UEFA. Aturan UEFA menyebut pemain yang terbukti melakukan tindakan rasis dapat terkena larangan minimal 10 laga serta kewajiban mengikuti program edukasi.

Reaksi Keras dari Lapangan

Vinicius menulis di Instagram:

“Para rasis, di atas segalanya, adalah pengecut. Mereka perlu menutupi mulut mereka dengan baju untuk menunjukkan betapa lemahnya mereka.

“Tetapi mereka, di samping mereka, mendapat perlindungan dari orang lain yang, secara teori, memiliki kewajiban untuk menghukum. Tidak ada yang terjadi hari ini yang baru dalam hidup saya atau dalam kehidupan keluarga saya.”

Ia juga mempertanyakan kartu kuning yang diterimanya dan menyebut protokol tidak berjalan efektif.

Rekan setimnya, Trent Alexander-Arnold, menyebut kejadian itu sebagai “aib bagi sepak bola” dan mengatakan tidak ada tempat bagi rasisme di sepak bola maupun masyarakat.

Kylian Mbappe menyatakan tim sempat mempertimbangkan meninggalkan lapangan. Ia menegaskan dukungan penuh kepada Vinicius dan menyebut kejadian tersebut lebih penting dari hasil pertandingan.

Federico Valverde mengatakan ada “sesuatu yang buruk” diucapkan kepada Vinicius dan menyebut isu ini sangat serius.

Mourinho dan Versi Berbeda

Pelatih Benfica, Jose Mourinho, menyatakan ingin bersikap independen karena kedua pemain menyampaikan versi berbeda. Ia juga menilai selebrasi Vinicius memicu reaksi suporter.

Sementara itu, pelatih Madrid, Alvaro Arbeloa, meminta agar pemain Benfica ditanya langsung terkait ucapan tersebut dan menegaskan rasisme harus dihapus dari sepak bola.

Prestianni membantah tudingan lewat media sosial. Ia menyatakan tidak pernah melontarkan hinaan rasial dan menyesalkan ancaman yang diterimanya.

Penyerang Benfica, Vangelis Pavlidis, membela rekan setimnya dan menyebut insiden mungkin dipicu rivalitas Brasil dan Argentina.

Rekam Jejak Panjang Kasus Rasisme terhadap Vinicius

Vinicius, 25 tahun, berulang kali menjadi target pelecehan rasial.

Pada 2023, ia mengalami pelecehan saat melawan Valencia. Tiga suporter kemudian dijatuhi hukuman penjara delapan bulan. Pada 2025, lima orang menerima hukuman penjara dengan masa percobaan atas kasus serupa dalam laga melawan Real Valladolid.

Ia juga pernah mengatakan pada 2024 bahwa ia merasa “semakin tidak ingin bermain sepak bola” akibat pelecehan berulang.

Konfederasi Sepak Bola Brasil menyatakan rasisme adalah kejahatan dan tidak dapat diterima di mana pun.

Menunggu Keputusan UEFA

Kasus ini kini berada di tangan Badan Kontrol, Etik, dan Disiplin UEFA. Keputusan mereka akan menentukan apakah penyelidikan resmi dibuka dan sanksi dijatuhkan.

Madrid pulang dengan kemenangan. Namun pertanyaan besar tetap menggantung. Apakah sepak bola Eropa benar-benar siap menegakkan komitmen melawan rasisme ketika insiden seperti ini terus berulang?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses