BerandaInternasionalHarga Minyak Dunia Melonjak, BBM Indonesia Terancam Naik hingga 25% Jika Selat...

Harga Minyak Dunia Melonjak, BBM Indonesia Terancam Naik hingga 25% Jika Selat Hormuz Ditutup

Independen Ekspos | Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia. Dampaknya bisa langsung terasa ke Indonesia. Harga BBM berpotensi naik hingga 25 persen, bahkan lebih, jika situasi memburuk.

Iran memutuskan menutup Selat Hormuz. Jalur ini mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global. Penutupan ini langsung mengguncang pasar energi.

Serangan drone Iran juga memicu penutupan fasilitas minyak Arab Saudi. Rantai pasok energi kawasan terganggu. Harga minyak pun melonjak dalam hitungan jam.

Harga Minyak Brent dan WTI Melonjak Tajam

Pada penutupan Senin, 2 Maret, harga minyak mentah Brent berjangka sempat naik 13 persen ke level USD 82,37 per barel. Harga kemudian ditutup naik 6,7 persen di posisi USD 77,74 per barel.

Minyak mentah West Texas Intermediate dari Amerika Serikat ditutup di level USD 71,23 per barel. Angka ini naik 6,3 persen.

Lonjakan ini menunjukkan pasar merespons cepat risiko gangguan pasokan.

Dua Skenario: Selat Hormuz Terbuka atau Ditutup

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memaparkan dua skenario utama.

Skenario 1: Selat Hormuz Tetap Terbuka

Jika Iran tidak menutup Selat Hormuz, peluang kenaikan harga minyak 0 hingga 25 persen mencapai 80 persen. Dalam kondisi ini, harga minyak bisa menyentuh USD 97,5 per barel pada pekan ini.

Dalam skenario ini, harga BBM di Indonesia berpotensi naik 10 hingga 25 persen. Indonesia mengimpor sekitar 90 persen minyak dari Timur Tengah. Artinya, gejolak kawasan langsung memukul biaya impor energi nasional.

Yayan menyatakan:

“Artinya bahwa kemungkinan kenaikan harga BBM bagi Indonesia yang mengimpor minyak dari wilayah Timur Tengah yang kurang lebih 90 persen, tanpa penutupan selat Hormuz harga BBM akan naik menjadi 10-25 persen.”

Skenario 2: Selat Hormuz Ditutup

Jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz, dampaknya lebih besar. Harga minyak bisa melonjak hingga 50 persen dalam 4 sampai 5 hari ke depan.

Harga minyak mentah berpotensi menembus USD 117 per barel pada pekan depan. Bahkan dalam beberapa hari mendatang bisa langsung berada di kisaran USD 90 hingga USD 100 per barel.

Yayan menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz dapat membuat harga minyak 25 persen lebih tinggi dibandingkan skenario tanpa penutupan.

Dalam kondisi ini, harga BBM di Indonesia bisa naik lebih dari 25 persen.

BBM Non Subsidi Pasti Disesuaikan

Yayan menilai penyesuaian harga BBM non subsidi hampir pasti dilakukan.

“Penyesuaian harga BBM untuk non subsidi, pasti akan dilakukan, dengan harga bisa di 10-25 persen, tapi mudah-mudahan Pertamina bisa meng-cap 5-10 persen, karena Indonesia memperoleh windfall profit PNBP karena menjual minyak Indonesia.”

Ia menyebut pemerintah dan PT Pertamina dapat menahan kenaikan agar tidak penuh. Negara juga memperoleh tambahan penerimaan bukan pajak dari kenaikan harga minyak.

Harga BBM Non Subsidi Sudah Naik per 1 Maret 2026

Kenaikan harga sudah terjadi sebelum eskalasi ini.

Mulai 1 Maret 2026, harga BBM non subsidi PT Pertamina (Persero) naik di sejumlah wilayah.

Berikut rinciannya untuk Jakarta dan sebagian wilayah Jawa, Bali, serta Nusa Tenggara:

  • Pertamax naik menjadi Rp 12.300 per liter dari Rp 11.800 per liter
  • Pertamax Turbo naik menjadi Rp 13.100 per liter dari Rp 12.700 per liter
  • Pertamax Green naik menjadi Rp 12.900 per liter dari Rp 12.450 per liter
  • Dexlite naik menjadi Rp 14.200 per liter dari Rp 13.250 per liter
  • Pertamina Dex naik menjadi Rp 14.500 per liter dari Rp 13.500 per liter

Sementara itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak berubah.

Apa Dampaknya bagi Konsumen?

Jika harga minyak dunia terus naik, biaya impor energi Indonesia ikut terdorong. Harga BBM non subsidi menjadi penyesuaian pertama.

Kenaikan 10 persen pada Pertamax berarti tambahan lebih dari Rp 1.200 per liter dari harga Rp 12.300 saat ini. Jika naik 25 persen, kenaikannya bisa lebih dari Rp 3.000 per liter.

Kondisi ini menunjukkan betapa sensitifnya harga energi domestik terhadap konflik geopolitik. Selat Hormuz menjadi titik kunci. Jika jalur ini tetap terbuka, tekanan masih bisa dikendalikan. Jika ditutup, dampaknya menjalar cepat ke harga di SPBU dalam negeri.

Pasar kini menunggu langkah berikutnya dari Iran dan respons negara lain di kawasan. Harga minyak bergerak cepat. Harga BBM di Indonesia bisa ikut bergerak dalam waktu singkat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses