Independen Ekspos | Perusahaan teknologi luar angkasa milik miliarder Elon Musk, SpaceX, mengajukan rencana yang memicu perdebatan global. Perusahaan tersebut ingin meluncurkan satu juta satelit ke orbit Bumi.
Jika rencana milik SpaceX ini berjalan, jaringan internet dapat menjangkau hampir seluruh wilayah planet. Namun para ilmuwan menilai dampaknya jauh melampaui sekadar konektivitas. Mereka mengkhawatirkan efek jangka panjang pada atmosfer, langit malam, hingga keamanan aktivitas di luar angkasa.
Proposal tersebut telah diajukan kepada Federal Communications Commission atau FCC di Amerika Serikat.
Proses dengar pendapat publik terkait rencana itu telah ditutup pada Jumat, 6 Maret 2026. Lebih dari 1.000 komentar masuk. Sebagian besar meminta FCC menolak proposal tersebut.
Ambisi Internet Global dari Orbit
SpaceX ingin memperluas jaringan satelitnya melalui proyek konstelasi satelit besar. Proyek ini berkaitan dengan layanan internet satelit perusahaan yang dikenal sebagai Starlink.
Tujuannya sederhana. Internet harus bisa menjangkau semua orang di Bumi.
Wilayah terpencil menjadi target utama. Banyak daerah di dunia masih kesulitan mendapat akses internet stabil karena infrastruktur kabel mahal dan sulit dibangun. Satelit menawarkan solusi cepat.
Saat ini, sekitar 16.000 satelit mengorbit Bumi. Dari jumlah itu sekitar 14.000 masih aktif.
SpaceX mengoperasikan lebih dari 8.000 satelit. Angka tersebut berubah hampir setiap minggu karena perusahaan terus meluncurkan satelit baru dan menurunkan satelit lama dari orbit.
Rata-rata perusahaan meluncurkan lebih dari dua lusin satelit dua kali setiap minggu.
SpaceX bahkan pernah menyatakan target sekitar 40.000 satelit Starlink aktif di orbit.
Namun rencana terbaru jauh lebih besar. Satu juta satelit.
Pusat Data di Luar Angkasa
Dalam proposalnya ke FCC, SpaceX menyebut satelit tidak hanya berfungsi sebagai pemancar internet. Satelit juga dapat berperan sebagai pusat data yang mengorbit Bumi.
Konsep ini menawarkan beberapa keuntungan.
Pertama, pusat data di orbit tidak membutuhkan air sebagai sistem pendingin. Di Bumi, pusat data besar menggunakan air dalam jumlah besar untuk menjaga suhu server.
Kedua, energi berasal dari Matahari. Di orbit, panel surya dapat menerima cahaya hampir terus menerus.
SpaceX berargumen pendekatan ini dapat mengurangi emisi karbon yang biasanya muncul dari pusat data di darat.
Namun banyak peneliti menilai manfaat tersebut belum menutup potensi dampak yang lebih luas.
Satu Juta Satelit: Skala yang Mengejutkan
Lingkungan orbit Bumi sebenarnya sudah cukup padat.
Selain ribuan satelit aktif, terdapat lebih dari 140 juta potongan sampah antariksa. Ukurannya berkisar dari satu milimeter hingga sepuluh sentimeter.
Benda kecil ini bergerak sangat cepat. Bahkan potongan sekecil baut dapat merusak satelit atau membahayakan astronot.
Astronom dan fisikawan luar angkasa memandang rencana satu juta satelit sebagai lonjakan drastis.
Aaron Boley, salah satu direktur Outer Space Institute dan profesor fisika serta astronomi di University of British Columbia, mengungkapkan kekhawatiran tersebut.
Ia mengatakan jumlah satelit sebelumnya sudah meningkat dari ribuan menjadi sekitar 10.000 dalam waktu singkat.
“Kami melihat transisi dari ribuan satelit menjadi 10.000 satelit sebagian besar terjadi melalui SpaceX. Kami sudah sangat khawatir tentang menjaga lingkungan orbit yang sehat dengan jumlah itu.”
Menurutnya, rencana satu juta satelit melampaui batas yang selama ini dibahas para peneliti.
“Ini melampaui itu. Dalam hampir semua metrik yang bisa kami pikirkan, ini adalah ide yang buruk untuk penggunaan dan akses jangka panjang ke luar angkasa.”
Peluncuran Roket dan Ancaman Atmosfer
Masalah pertama muncul dari proses peluncuran.
Setiap satelit harus dikirim ke orbit menggunakan roket. Jika jumlah satelit mencapai satu juta, jumlah peluncuran yang dibutuhkan bisa mencapai ribuan.
Peluncuran roket menghasilkan emisi yang berbeda dari polusi di permukaan Bumi.
Polutan dilepaskan langsung ke lapisan atmosfer atas.
Peneliti menunjukkan bahwa roket menghasilkan karbon hitam atau jelaga. Zat ini dapat memicu efek pemanasan dan berpotensi merusak lapisan ozon.
Eloise Marais, profesor kimia atmosfer dan kualitas udara di University College London, meneliti emisi dari peluncuran roket dan proses masuk kembali satelit.
Ia menilai diskusi tentang dampak atmosfer masih minim dibandingkan skala proyek yang diusulkan.
“Sebenarnya campuran polutan inilah yang memengaruhi atmosfer.”
Polutan dari roket tidak tersebar di dekat permukaan. Mereka langsung berada di lapisan atmosfer yang sensitif.
Hal ini membuat efeknya berbeda dari emisi kendaraan atau industri.
Saat Satelit Terbakar di Atmosfer
Satelit memiliki masa pakai terbatas.
Ketika masa operasinya berakhir, satelit biasanya diarahkan kembali ke atmosfer Bumi. Proses ini disebut deorbit.
Saat memasuki atmosfer, satelit terbakar karena gesekan udara.
Penelitian terbaru menunjukkan proses ini meninggalkan residu logam. Di antaranya aluminium dan litium.
Ilmuwan belum mengetahui dampak jangka panjang logam tersebut terhadap atmosfer.
Ketidakpastian inilah yang menimbulkan kekhawatiran.
“Ini menakutkan karena kita melakukan eksperimen semacam ini dengan atmosfer tanpa benar-benar tahu apa hasilnya.” kata Marais.
Jika satu juta satelit benar-benar beroperasi, proses deorbit akan terjadi terus menerus.
Beberapa simulasi menunjukkan satelit bisa kembali ke atmosfer setiap tiga menit jika seluruh konstelasi akhirnya diturunkan.
Risiko Tabrakan di Orbit
Orbit Bumi bukan ruang kosong tanpa batas.
Satelit bergerak sangat cepat. Kecepatan rata-rata objek di orbit rendah Bumi bisa mencapai sekitar 28.000 kilometer per jam.
Pada kecepatan itu, tabrakan kecil dapat menghasilkan ribuan serpihan baru.
Serpihan tersebut kemudian dapat memicu tabrakan lanjutan.
Fenomena ini dikenal sebagai efek berantai dalam sampah antariksa.
Semakin banyak satelit di orbit, semakin besar kemungkinan tabrakan.
Hal ini dapat mengancam satelit komunikasi, navigasi GPS, dan satelit cuaca yang digunakan setiap hari.
Banyak orang tidak menyadari betapa seringnya mereka menggunakan satelit.
Mengirim foto di media sosial, mencari rute perjalanan, hingga melakukan pembayaran digital dapat melibatkan sistem berbasis satelit.
Jika lingkungan orbit menjadi tidak stabil, layanan ini juga terancam.
Langit Malam yang Dipenuhi Cahaya Satelit
Masalah lain muncul dari sisi astronomi.
Observatorium membutuhkan langit yang gelap untuk mengamati objek jauh di alam semesta.
Satelit memantulkan cahaya Matahari. Cahaya ini terlihat sebagai garis terang yang melintas di langit malam.
Jumlah satelit yang banyak dapat mengganggu pengamatan teleskop.
Gangguan tidak hanya terjadi pada teleskop optik. Satelit juga memancarkan radiasi elektromagnetik yang dapat mengganggu teleskop radio.
John Barentine, pendiri Dark Sky Consulting, mengatakan simulasi terbaru menunjukkan dampak yang signifikan.
“Kami memiliki beberapa simulasi yang lebih detail yang akan kami sertakan dalam komentar FCC kami yang menunjukkan bahwa mungkin ada ribuan satelit yang menyala setiap saat, terlihat di langit malam, yang cukup terang untuk dilihat semua orang.”
Efek ini tidak hanya dirasakan astronom profesional.
Pengamat langit amatir juga akan melihat lebih banyak titik cahaya bergerak di langit.
Bahkan di daerah dengan polusi cahaya rendah, puluhan satelit dapat terlihat dalam satu malam.
Observatorium Bumi dan Teleskop Luar Angkasa Terancam
Proposal SpaceX menyebut satelit akan ditempatkan pada ketinggian antara 500 hingga 5.000 kilometer.
Ketinggian ini berada dalam jalur pandang banyak teleskop.
Akibatnya, observatorium di Bumi maupun teleskop luar angkasa dapat terdampak.
Salah satu teleskop yang berpotensi terkena gangguan adalah Hubble Space Telescope.
Cahaya satelit dapat muncul sebagai garis terang pada citra teleskop.
Bagi astronom, gangguan ini berarti hilangnya data pengamatan.
Dalam penelitian astronomi, satu citra yang rusak dapat menghapus jam bahkan hari pengamatan.
Langit Gelap yang Membentuk Peradaban
Langit malam bukan hanya objek penelitian ilmiah.
Selama ribuan tahun, manusia menggunakan langit untuk navigasi, kalender, dan cerita budaya.
Rasi bintang menjadi bagian dari mitologi di banyak peradaban.
Gelapnya langit juga memengaruhi cara manusia memahami alam semesta.
Aaron Boley mengingatkan perubahan besar pada langit malam dapat mengubah pengalaman manusia melihat alam semesta.
“Bahkan ketika Anda pergi ke tempat-tempat gelap di sekitar Bumi, jauh dari lingkungan perkotaan atau pinggiran kota Anda, langit tidak akan segelap sebelumnya.”
Artinya, tidak ada tempat di planet ini yang sepenuhnya bebas dari cahaya satelit.
Respons SpaceX terhadap Kritik
Dalam dokumen yang diajukan ke FCC, SpaceX menyatakan akan mencoba mengurangi dampak atmosfer dari proses deorbit satelit.
Perusahaan juga menyebut kemungkinan memindahkan sebagian pusat data satelit ke orbit heliosentris. Orbit ini mengelilingi Matahari, bukan Bumi.
Namun proposal SpaceX tersebut tidak menyertakan rincian teknis mendalam.
Hal ini membuat banyak peneliti menilai penjelasan tersebut belum cukup untuk menilai dampaknya.
Beberapa astronom juga mengungkapkan kekecewaan karena sebelumnya SpaceX sempat bekerja sama dengan komunitas astronomi untuk mengurangi kecerahan satelit.
Rencana satu juta satelit dianggap bertentangan dengan upaya tersebut.
Perlombaan Konstelasi Satelit Global
SpaceX bukan satu-satunya pihak yang ingin membangun jaringan satelit raksasa.
Beberapa negara dan perusahaan juga merancang proyek serupa.
Jonathan McDowell, astrofisikawan yang melacak peluncuran roket global, memperkirakan total proposal konstelasi satelit di seluruh dunia mencapai sekitar 1,7 juta satelit.
Angka ini termasuk proyek besar dari China.
Tidak semua rencana tersebut akan terlaksana. Namun bahkan jika setengahnya terealisasi, jumlah satelit di orbit akan meningkat drastis.
Konsekuensinya bersifat global.
Setiap peluncuran roket, setiap satelit baru, dan setiap potensi tabrakan memengaruhi seluruh planet.
Rencana SpaceX meluncurkan satu juta satelit membuka dua kemungkinan besar. Di satu sisi, jaringan satelit dapat menghadirkan akses internet ke hampir seluruh wilayah Bumi dan mengubah cara manusia terhubung. Di sisi lain, para ilmuwan melihat risiko yang belum sepenuhnya dipahami. Peluncuran roket dapat menambah polusi di atmosfer, satelit yang terbakar dapat meninggalkan logam di udara, tabrakan di orbit dapat meningkatkan sampah antariksa, dan cahaya satelit dapat mengubah langit malam yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari ilmu pengetahuan dan budaya manusia. Keputusan regulator akan menentukan apakah ambisi jaringan global ini berjalan atau berhenti sebelum mencapai orbit.


