Independen Ekspos | Serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak 28 Februari memicu tragedi besar. Investigasi awal menunjukkan salah satu serangan paling mematikan kemungkinan terjadi karena penggunaan data intelijen yang sudah usang.
Serangan itu menghantam sebuah sekolah dasar di Iran selatan. Ratusan anak dan guru tewas. Temuan awal dari investigasi militer Amerika Serikat kini mengungkap bagaimana kesalahan penentuan target bisa terjadi.
Serangan Hari Pertama Operasi Militer
Operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Serangkaian serangan udara dan rudal diluncurkan ke berbagai target di negara tersebut.
Salah satu serangan menghantam Sekolah Dasar Putri Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Provinsi Hormozgan.
Bangunan sekolah hancur setelah rudal menghantam kompleks tersebut saat aktivitas sekolah berlangsung.
Data korban yang dilaporkan Iran menunjukkan lebih dari 160 orang tewas. Sebagian besar korban merupakan siswa sekolah dasar. Selain itu, sejumlah guru juga menjadi korban.
Beberapa laporan menyebut korban tewas mencapai lebih dari 170 orang. Di antaranya sekitar 168 siswa dan 14 guru.
Serangan ini menjadi salah satu insiden paling mematikan dalam operasi militer tersebut.
Investigasi Awal: Target Salah Karena Data Lama
Investigasi militer Amerika Serikat yang masih berlangsung menemukan indikasi kesalahan penentuan target.
Hasil awal menunjukkan rudal tidak meleset dari koordinat yang ditetapkan. Rudal justru mengenai lokasi yang dianggap sebagai target militer berdasarkan data lama.
Perwira di Komando Pusat Amerika Serikat atau US Central Command diduga menyusun koordinat serangan menggunakan informasi intelijen lama yang disediakan oleh Defense Intelligence Agency.
Data tersebut menunjukkan lokasi sekolah pernah menjadi fasilitas militer.
Sekitar 15 tahun lalu, kompleks itu merupakan pangkalan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.
Fasilitas itu kemudian diubah menjadi sekolah. Banyak murid yang belajar di sana merupakan anak anggota militer maupun warga sipil.
Perubahan fungsi ini diduga tidak tercermin dalam data intelijen yang digunakan saat serangan direncanakan.
Peran Intelijen dan Proses Penentuan Target
Penentuan target militer biasanya melewati proses verifikasi yang melibatkan beberapa badan intelijen.
Defense Intelligence Agency mengumpulkan data yang kemudian digunakan dalam proses validasi target.
Informasi tersebut juga diverifikasi menggunakan sumber lain, termasuk intelijen dari negara sekutu.
Namun investigasi masih mencari titik kegagalan dalam proses tersebut.
Pejabat Amerika Serikat menyatakan belum jelas di tahap mana kesalahan terjadi hingga data lama tetap digunakan.
Israel juga terlibat dalam proses pemilihan target yang kemudian memicu kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap lokasi sekolah tersebut.
Bukti Rudal Tomahawk di Lokasi Serangan
Rekaman video yang beredar menunjukkan momen ledakan di kompleks sekolah.
Para pakar senjata memeriksa fragmen rudal dan citra yang beredar. Mereka menemukan tanda yang mengarah pada rudal Tomahawk Land Attack Missile (TLAM) milik Angkatan Laut Amerika Serikat.
Media pemerintah Iran juga menampilkan potongan rudal dengan tanda yang sama.
Saat ini, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menggunakan rudal Tomahawk dalam konflik tersebut.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa munisi Amerika Serikat kemungkinan digunakan dalam serangan tersebut.
Respons Pemerintah Amerika Serikat
Pejabat Komando Pusat Amerika Serikat menolak memberi komentar rinci.
Ia menyatakan tidak tepat membahas insiden tersebut karena investigasi masih berlangsung.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya membantah negaranya bertanggung jawab atas serangan itu.
Ia mengatakan kepada wartawan bahwa menurut pandangannya serangan tersebut dilakukan oleh Iran.
Namun ketika ditanya kembali setelah laporan investigasi muncul, Trump menjawab singkat bahwa ia tidak mengetahui laporan tersebut.
Kritik dari Pakar Hukum Internasional
Insiden ini menarik perhatian pakar hukum internasional.
Kelompok ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa serangan terhadap sekolah yang sedang digunakan untuk kegiatan belajar menimbulkan persoalan serius dalam hukum perang.
Menurut para ahli, serangan terhadap bangunan pendidikan dapat dianggap sebagai kejahatan perang jika dilakukan dengan sengaja.
Kasus ini kini menjadi salah satu fokus utama dalam evaluasi operasi militer yang berlangsung di Iran.
Serangan Lain yang Diduga Salah Sasaran
Selain serangan terhadap sekolah di Minab, laporan lain juga menyebut kemungkinan kesalahan target pada serangan berbeda.
Pada 2 Maret, Israel mengumumkan telah menyerang gedung Majelis Ahli Iran di kota Qom.
Majelis Ahli merupakan lembaga ulama Syiah yang memiliki tugas memilih pemimpin tertinggi Iran.
Serangan tersebut dilaporkan terjadi setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan sebelumnya pada 28 Februari.
Namun laporan media menyebut gedung itu kosong saat serangan terjadi.
Media Iran juga menyatakan bangunan tersebut sudah lama tidak digunakan untuk pertemuan.
Pertanyaan Besar di Balik Serangan
Investigasi militer Amerika Serikat masih berlangsung. Banyak pertanyaan belum terjawab.
Penyelidik mencoba memahami mengapa data lama tetap digunakan dalam proses penentuan target.
Kasus ini menjadi ujian serius bagi operasi militer Amerika Serikat dan Israel di Iran.
Kesalahan satu koordinat dapat berujung pada tragedi besar. Di Minab, kesalahan itu merenggut ratusan nyawa anak-anak yang sedang belajar di ruang kelas.


