Independen Ekspos | Ketegangan di Timur Tengah ikut mengguncang hubungan diplomatik Amerika Serikat dan China. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal akan menunda kunjungannya ke Beijing setelah China tidak merespons permintaan Washington untuk ikut mengamankan Selat Hormuz.
Trump menilai negara yang bergantung pada jalur energi tersebut harus ikut bertanggung jawab menjaga keamanan pelayaran. Namun, hingga kini beberapa negara yang diminta justru memilih tidak mengirim kapal perang.
Situasi ini muncul di tengah konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Ketegangan tersebut membuat jalur energi paling penting di dunia berada dalam tekanan.
Trump Tekan China untuk Ikut Amankan Selat Hormuz
Trump secara terbuka meminta China ikut terlibat dalam operasi keamanan di Selat Hormuz. Ia berharap Beijing mengirim kapal perang sebelum rencana pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir Maret 2026.
Menurutnya, China memiliki kepentingan langsung karena sebagian besar pasokan energinya melewati jalur tersebut.
Ia mengatakan kepada Financial Times:
“Saya pikir China juga seharusnya membantu, karena China mendapatkan 90 persen minyaknya dari Selat itu.”
Trump ingin mengetahui posisi Beijing sebelum kunjungannya ke China berlangsung.
“Kami mungkin akan menunda,” kata Trump tentang rencana perjalanan tersebut.
Pemerintah China menyatakan komunikasi dengan Amerika Serikat masih berlangsung. Beijing juga menegaskan belum ada keputusan resmi terkait kemungkinan penundaan kunjungan tersebut.
Selat Hormuz Jadi Pusat Krisis Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur sempit antara Iran dan Oman. Jalur ini menjadi salah satu rute energi paling vital di dunia.
Sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair global melewati selat tersebut setiap hari.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran lebih dari dua minggu lalu. Setelah serangan itu, Iran memperketat kontrol terhadap jalur pelayaran di kawasan tersebut.
Situasi ini membuat arus pengiriman minyak terganggu dan mendorong kenaikan harga energi global.
Trump mengatakan pasukan Iran kini berupaya mengganggu lalu lintas kapal di selat tersebut.
“Kami menyerang mereka dengan sangat keras. Mereka tidak punya apa-apa lagi selain membuat sedikit masalah di Selat.”
Trump Minta Negara Sekutu Kirim Kapal Perang
Trump sebelumnya meminta sejumlah negara mengirim kapal perang untuk menjaga jalur pelayaran tetap terbuka. Ia menyebut negara yang bergantung pada minyak dari kawasan Teluk harus ikut menjaga keamanan jalur tersebut.
Beberapa negara yang diminta antara lain:
- China
- Prancis
- Jepang
- Korea Selatan
- Inggris
Trump juga menyebut dukungan militer dapat berupa kapal penyapu ranjau dan peralatan militer untuk menghadapi drone atau ranjau laut.
Ia menegaskan negara yang mendapat manfaat dari jalur tersebut seharusnya ikut menjaganya.
“Sudah seharusnya pihak yang mendapatkan manfaat dari Selat itu membantu memastikan tidak terjadi hal buruk di sana.”
Sejumlah Negara Menolak Permintaan Washington
Upaya Washington membangun koalisi militer menghadapi respons dingin dari beberapa negara.
Jepang menyatakan belum memiliki rencana mengirim kapal angkatan laut ke kawasan tersebut. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan negaranya masih mempelajari langkah yang dapat dilakukan sesuai kerangka hukum.
Ia mengatakan:
“Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus meneliti apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum.”
Konstitusi Jepang membatasi keterlibatan militer negara itu dalam konflik bersenjata.
Selain Jepang, beberapa negara lain juga menyatakan tidak akan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Negara tersebut termasuk Australia dan Kanada.
Trump Kritik Respons Inggris
Trump juga menyinggung respons Inggris setelah berbicara dengan Perdana Menteri Keir Starmer.
Ia mengaku kecewa karena Inggris tidak langsung memenuhi permintaan Amerika Serikat.
“Inggris mungkin dianggap sekutu nomor satu, tetapi ketika saya meminta mereka datang, mereka tidak mau datang.”
Menurut Trump, Inggris baru menawarkan pengiriman kapal setelah kemampuan militer Iran sudah melemah akibat serangan Amerika Serikat.
Ancaman Serangan Baru ke Infrastruktur Minyak Iran
Trump juga membuka kemungkinan serangan tambahan terhadap fasilitas energi Iran.
Ia menyebut Pulau Kharg sebagai target potensial. Pulau tersebut merupakan pusat utama ekspor minyak Iran.
Trump mengatakan fasilitas tersebut dapat diserang dengan cepat jika diperlukan.
“Kami bisa menghantamnya dalam lima menit. Tidak ada yang bisa mereka lakukan.”
Kunjungan Trump ke Beijing Jadi Taruhan Diplomasi
Rencana kunjungan Presiden AS tersebut ke China sebenarnya memiliki arti penting bagi hubungan kedua negara. Washington dan Beijing masih menghadapi ketegangan perdagangan setelah saling mengancam tarif tinggi selama setahun terakhir.
Sementara itu, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng tengah melakukan pembicaraan di Paris. Pertemuan tersebut bertujuan menyelesaikan persoalan dalam gencatan dagang kedua negara.
Hasil perundingan itu juga diharapkan membuka jalan bagi pertemuan langsung antara Trump dan Xi Jinping di Beijing.
Namun, tekanan Trump terkait Selat Hormuz kini membuat agenda diplomasi tersebut berada dalam ketidakpastian. Konflik di Timur Tengah tiba-tiba berubah menjadi faktor penentu dalam hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.


