Independen Ekspos | Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada Selasa, 17 Maret 2026. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan akibat terganggunya Selat Hormuz dan sikap sejumlah sekutu Amerika Serikat yang menolak mengirim kapal perang.
Kontrak berjangka Brent naik lebih dari 2 persen. Harga menyentuh kisaran 102,69 hingga 102,95 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik sekitar 2,6 persen ke kisaran 95,92 hingga 95,95 dolar AS per barel.
Kenaikan ini membalik sebagian penurunan pada sesi sebelumnya.
Selat Hormuz Tersendat, Pasokan Global Tertekan
Selat Hormuz memegang peran kunci dalam pasokan energi global. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur ini.
Kini, jalur tersebut terganggu akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah memasuki pekan ketiga.
Gangguan ini langsung menekan pasokan. Pergerakan kapal tanker turun tajam. Risiko kekurangan minyak pun meningkat.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menjelaskan situasinya sangat rapuh.
“Risikonya masih tinggi. Satu serangan rudal atau ranjau dari milisi Iran bisa memicu kembali eskalasi penuh,” katanya.
Sekutu AS Menolak, Trump Terbuka Soal Kekecewaan
Pemerintah Amerika Serikat mendorong pembentukan koalisi untuk mengawal kapal tanker di Selat Hormuz. Namun, respons sekutu tidak sesuai harapan.
Sejumlah negara menolak mengirim kapal perang. Penolakan ini memicu kritik dari Presiden AS, Donald Trump.
“Sebagian sangat antusias, dan sebagian lainnya kurang antusias,” ujar Trump.
Ia juga menyinggung negara yang menolak terlibat meski selama puluhan tahun mendapat perlindungan dari AS.
Situasi ini membuat rencana pengawalan militer belum berjalan.
Gangguan Tambahan: Serangan Drone dan Produksi Turun
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari insiden lain. Kebakaran terjadi di Fujairah Oil Industry Zone setelah serangan drone. Tidak ada korban, namun kejadian ini menambah kekhawatiran pasar.
Di sisi produksi, Uni Emirat Arab terpaksa memangkas output lebih dari setengah akibat penutupan jalur distribusi.
Minyak mentah kawasan Timur Tengah bahkan mencapai harga tertinggi sepanjang sejarah. Ketersediaan pasokan fisik yang siap kirim menurun.
Pasar Fokus ke Perang dan Infrastruktur Energi
Pelaku pasar kini fokus pada dua hal. Durasi konflik dan dampaknya terhadap infrastruktur energi.
Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menyebut pasar mengamati kerusakan yang mungkin terjadi di kawasan Teluk.
Di sisi lain, pesan dari pemerintah AS dinilai belum konsisten.
“Pesan yang saling bertentangan datang dari pemerintahan Trump mengenai durasi perang, sementara pasar lebih fokus pada perkembangan di lapangan yang masih menunjukkan eskalasi,” kata Saul Kavonic dari MST Marquee.
Solusi Masih Buntu, Risiko Tetap Tinggi
Upaya mengatasi krisis belum membuahkan hasil. Ide pengawalan militer dan jaminan asuransi untuk kapal tanker masih tertunda.
Analis ING, Warren Patterson, menilai skala gangguan terlalu besar.
“Skala gangguan pasokan minyak yang begitu besar membuat pasar sulit menemukan solusi yang memadai,” ujarnya.
Ia juga menyoroti risiko pengawalan militer.
Pengawalan justru bisa membuat kapal perang menjadi target serangan. Karena itu, langkah tersebut kemungkinan ditunda hingga ancaman dari Iran menurun.
Cadangan Strategis Jadi Opsi Terakhir
Untuk menahan lonjakan harga energi, Badan Energi Internasional membuka opsi pelepasan cadangan minyak tambahan.
Sebelumnya, negara anggota telah sepakat melepas 400 juta barel dari cadangan strategis.
Langkah ini diharapkan menambah pasokan. Namun, pasar masih melihat faktor utama tetap pada kondisi di Selat Hormuz.
Arah Harga: Ditentukan Konflik
Harga minyak kini bergerak mengikuti perkembangan konflik.
Selama Selat Hormuz belum kembali normal, tekanan pada pasokan akan terus terasa.
Pertanyaannya sederhana. Kapan jalur ini benar-benar aman kembali? Selama jawabannya belum jelas, pasar akan tetap gelisah.


