Independen Ekspos | Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin mengumumkan tarif 25 persen terhadap seluruh negara yang tetap berbisnis dengan Iran. Tarif ini berlaku atas semua aktivitas bisnis negara tersebut dengan Amerika Serikat.
“Berlaku serta-merta, negara mana pun yang masih berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenai tarif sebesar 25 persen atas seluruh aktivitas bisnis yang mereka lakukan dengan Amerika Serikat,” tulis Trump.
“Keputusan ini bersifat final dan mengikat.”
Trump tidak menjelaskan mekanisme penerapan tarif, dasar hukum, maupun apakah kebijakan ini menyasar seluruh mitra dagang Iran atau hanya sebagian. Gedung Putih belum merilis dokumen resmi kebijakan tersebut.
Negara Mitra Iran di Bawah Tekanan
Iran memiliki hubungan dagang dengan banyak negara. China menjadi mitra dagang terbesar, disusul Irak, Uni Emirat Arab, Turki, dan India. Data terbaru menunjukkan Iran mengekspor produk ke 147 mitra dagang pada 2022.
China merespons pernyataan Trump dengan penolakan terbuka. Pemerintah China menyatakan menentang sanksi sepihak dan menyebut perang tarif tidak menghasilkan pemenang.
Protes Besar dan Penindakan Mematikan di Iran
Pengumuman tarif muncul di tengah gelombang protes anti-pemerintah terbesar di Iran dalam beberapa tahun terakhir. Protes berawal dari krisis ekonomi, runtuhnya nilai mata uang, dan salah kelola ekonomi. Aksi kemudian berkembang menjadi tuntutan penggulingan pemerintahan ulama yang berkuasa hampir lima dekade.
Lembaga Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia mencatat sedikitnya 648 orang tewas sejak protes dimulai. Sembilan korban berusia di bawah 18 tahun. Lembaga HAM lain melaporkan lebih dari 10.600 orang ditangkap. Pemerintah Iran tidak merilis angka resmi korban.
Rekaman yang beredar menunjukkan puluhan jenazah terbaring di luar kamar jenazah Teheran. Verifikasi dari luar negeri sulit dilakukan akibat pemadaman internet lebih dari 100 jam dan pemutusan jaringan telepon.
Demonstrasi Pro-Pemerintah dan Narasi Resmi
Pada Senin, puluhan ribu massa pro-pemerintah turun ke jalan di Teheran dalam aksi yang digelar negara. Aksi serupa terjadi di Kerman, Zahedan, Birjand, dan kota lain. Media pemerintah menyebut unjuk rasa ini sebagai dukungan bagi rezim.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuduh Amerika Serikat melakukan penipuan dan memanfaatkan pihak bayaran. Ia menuding para demonstran merusak jalan untuk menyenangkan presiden negara lain. Khamenei memuji aksi pro-pemerintah dan menegaskan kekuatan negara.
Kontak Diplomatik Tetap Terbuka
Di tengah eskalasi, Teheran menyatakan jalur komunikasi dengan Washington tetap terbuka. Menteri Luar Negeri Iran berkomunikasi dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut pesan publik Iran berbeda dengan pesan privat yang diterima Washington. Trump disebut tertarik mendalami pesan tersebut lebih lanjut.
Opsi Militer Masih di Meja
Gedung Putih menegaskan diplomasi menjadi pilihan awal, namun opsi militer tetap terbuka. Trump mempertimbangkan berbagai langkah, termasuk serangan udara.
Pentagon telah memaparkan sejumlah opsi kepada Trump. Opsi itu mencakup serangan rudal jarak jauh, operasi siber, dan kampanye psikologis untuk melumpuhkan struktur komando dan komunikasi Iran. Pertemuan tim keamanan nasional dijadwalkan berlangsung di Gedung Putih.
Trump menyatakan militer AS menimbang “opsi sangat kuat” jika jumlah korban terus bertambah. Ia juga mengklaim ada upaya dari pihak Iran untuk bernegosiasi, namun AS bisa bertindak sebelum pertemuan terjadi.
Penangkapan dan Klaim Keamanan Iran
Otoritas Iran melaporkan penyitaan 273 pucuk senjata api dari sebuah truk kargo internasional dan penahanan tiga orang. Aparat juga menangkap lima orang yang dituding terkait jaringan partai Kurdi terlarang di Khorramabad.
Sebanyak 15 orang lain ditangkap karena diduga terkait saluran televisi oposisi berbahasa Persia yang beroperasi dari luar negeri. Pejabat Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik kelompok bersenjata yang menyerang fasilitas publik.
Dampak Ekonomi dan Risiko Lanjutan
Iran menghadapi tekanan ekonomi berat. Inflasi mendorong harga pangan naik hingga 70 persen. Pangan menyumbang sekitar sepertiga impor Iran. Tarif tambahan terhadap mitra dagang berpotensi memperparah kelangkaan dan kenaikan harga.
Sebagian staf Kedutaan Besar Prancis non-esensial telah meninggalkan Iran. Pemerintah Prancis menyatakan perlindungan personel dan warga menjadi prioritas.
Tekanan Global dan Posisi Trump
Kebijakan tarif Trump terjadi di tengah tekanan hukum atas kebijakan dagang AS. Mahkamah Agung AS tengah mempertimbangkan pembatalan sebagian tarif yang pernah diberlakukan Trump.
Meski demikian, Trump menegaskan pendekatan tekanan maksimum akan terus berjalan. Tarif 25 persen kini menjadi alat baru Washington untuk menekan Iran dan negara-negara yang tetap berhubungan dagang dengan Teheran di tengah krisis politik dan kemanusiaan yang memburuk.


